Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • ORDER DESIGN
  • ABOUT ME
  • JUAL KEFIR
JASA DESIGN BLOG KHUSUS BLOGSPOT & JUAL PRODUK KEFIR

Curahan Hati si Sakit GERD

Agustinadian Susanti | Senin, Desember 26, 2016 | 8 Comments so far
Hanya melalui tulisan di blog ini aku ingin mencurahkan isi hatiku... uneg-unegku. Jangan tersinggung atau marah ketika kau membaca tulisanku ini. Jika kau marah itu berarti kau tidak dewasa tidak mau mengakui bahwa kamu punya andil juga dalam rasa sakit yang kualami namun kamu menyangkal mengelak dan bersikap seakan aku yang 100% bersalah. 


Aku sudah tidak tahan lagi. 

Ingin marah tapi tak berhak 

Ingin protes tapi tak kuasa 

Demikianlah jeritan hatiku 

Jeritan hati yang tersiksa secara batin 

Kelemahan tubuh membuatku tergantung pada orang lain 

Orang sehat pasti bisa mandiri. 

Orang sakit mana yang tidak butuh bantuan orang lain? Kalaupun ada pasti hanya sakit flu atau panu. 

Yang mana membuatku harus menerima saja setiap sikap cuek dan dinginnya Ini seperti karma buatku. Ini seperti orang yang punya masalah dengan suaminya dan ingin cerai. 

Andai saja ada seseorang yang mau hidup bersamaku dengan baik Tentu aku tak akan sesakit ini dan tidak ada lagi sakit hati 

Sekarang aku tahu hampir semua teman-temanku yang kena GERD pasti punya tekanan batin yang hebat dari orang-orang terdekatnya. Jika tidak demikian mustahil mereka bisa sakit sampai harus mengonsumsi obat penenang. 

Mohon sayangi dan kasihilah keluargamu yang sedang berjuang melawan GERD, psikosomatis, dan anxiety disorder..

Jangan bilang mereka lebay. Mereka benar-benar sakit. Mereka butuh dukungan kalian semua, Jangan ada lagi saling menyalahkan. Bilang sakit ini dibuat buat, Sadar woi sadar.. keluargamu itu harta terbesar dalam hidup. 

Kalau kamu sakit dan masuk rumah sakit yang ditanyakan pihak rumah sakit pasti dimana keluarganya, dimana suami/ istrinya. Tidak pernah ditanya dimana temannya? 

Keluarga orang terdekat yang seharusnya mengasihi. Bukan menghakimi. Aku yang sakit hanya selalu disalahkan, semua dibilang aku sakit karena pikiranku sendiri. Sadarkan kamu yang menyakitiku? Susah kumpul sama orang moody. Selalu jadi pelampiasan. 

Manusia memang lebih mudah mengingat kesalahan daripada kebaikan. Satu kali berbuat salah dendamnya bisa sampai ke liang kubur. Baru sehat sebentar sudah disakiti lagi 

Seandainya aku sehat, aku pasti bisa mandiri 

Agoraphobia, membuatku bergantung dan ditindas 

Aku jujur tak ingin mengalami ini

Aku selalu berusaha untuk normal kembali 

Tapi pencernaanku yang lemah membuatku tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain 

Kondisiku sering tidak stabil, hari ini sehat bisa saja beberapa jam kemudian sakit dan bisa muntah atau masuk UGD lagi karena salah makan. 

Aku muak dengan semua makanan, parno dengan semua bahan makanan, Aku banyak pantangan makan. Bahkan aku cemas ketika hendak makan sesuatu yang baru atau ingin kucoba. 

Aku sendirian, benar benar sendirian Menghadapi semua ini kadang aku rindu orang tuaku. Yang mengasihiku dengan sempurna 

Hidup ini keras. Apakah ini cara Tuhan untuk membuatku bangkit ?

Aku tidak perlu banyak, aku hanya minta 1 teman hidup yang bisa mengasihi dan mencintaiku membantuku untuk cepat pulih dan menatap hari esok lebih baik. Namun kubelum mendapatinya. Aku tidak dendam, sungguh aku selalu membuka pintu maaf.

Aku memahami karena mereka ga ngalami jadi mereka ga bisa mengerti kondisiku. Itu wajar, manusiawi. Aku cuma berdoa semoga Tuhan melembutkan hatimu dan menyadarkanmu bahwa apa yang kamu lakukan itu justru menyakiti lebih dalam. Aku tidak ingin sakit lagi karena depresi. Aku ingin lepas tapi keadaan membuatku harus menghadapi menerima dan merendahkan hati. Sakit memang tapi mau bagaimana lagi aku tak punya pilihan. Aku sungguh tertindas. Tolong aku yang tertindas ini ya Tuhan.... dan ampunilah mereka yang tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan.
Read More

Kembali ke Rumah Sakit

Agustinadian Susanti | Kamis, Desember 15, 2016 | 16 Comments so far
Setelah 2 minggu merasakan nikmatnya pagi, aku kembali mendapat musibah. Havermut yang biasa tidak apa-apa ketika kumakan eh hari itu bikin aku eneg sampai mual dan muntahpun tak terhindarkan. Mungkin lambungku sudah super sensi hingga muntah. 

Minggu pagi ketika aku di kos sendirian, adikku pergi luar kota dan aku muntah sampai keluar bercak darah lagi dari jam 6 pagi. Karena sudah tidak kuat lagi aku mencoba menghubungi temanku yang kebetulan lagi mau aku titipin beli obat. Aku menyebutnya koko. 

Kokoku datang jam 10 pagi dan melihat langsung gimana polahku muntah ga selesai-selesai. Aku minta dia untuk bawa aku ke rumah sakit, tapi dia masih menunda-nunda. Aku sampai nangis mohon-mohon dia masih aja penuh pertimbangan. Selagi masih bisa diatasi jangan sampai mondok karena ga ada yang nungguin. 

Aku lemas sampai pingsan berkali-kali barulah koko mau mengantarku itu kira-kira jam 12.00 wib. Aku masuk-masukin barang-barang yang akan kubawa ke rumah sakit ke dalam tas besar. 

Ini bukan pertama kalinya aku harus ke UGD karena salah makan. Koko nganter aku naik brompitnya, aku bonceng koko sambil terus muntah pake kantung kresek. 

Sampai di rumah sakit terdekat aku langsung masuk UGD dan dibantu oleh perawat cowok untuk berbaring disitu. Aku langsung sodorin berkas-berkas BPJS ke koko supaya didaftarkan di loket pendaftaran pasien. 

Aku masih belum berhenti muntah. Dokter jaga yang memeriksaku langsung memberi perintah suruh opname. Koko masih menemaniku hingga aku dapat kamar. Aku langsung diinfus. 

Sungguh berbeda dengan kisahku ke UGD beberapa waktu lalu di rumah sakit yang sama. Dulu aku bpjs kelas 3 sekarang kelas 1. Tapi aku yakin bukan karena itu sih. Kebetulan aja ketemu dokter yang tanggap. 

Aku masuk kamar kelas 1 sungguh bersih dan nyaman. Aku sendirian lagi. Ada TV di kamarku tapi aku tidak terlalu terhibur. Aku terus muntah hingga pukul 6 sore. Belum ada sedikit makananpun yang bisa kutelan. Suster memberikanku suntikan ondansetron sampai 2 ampul kemudian disusul dengan suntikan omeprazol. 

Aku mulai lemas dan memaksakan diri untuk makan ketika makanan rumah sakit datang. Untunglah akhirnya aku bisa makan setelah muntah dari pagi. Sesudah aku makan, koko pamit pulang tapi sebelum itu dia membelikanku apel karena hanya apel yang bisa kubuat cemilan. Agak boros sich hiks. 

Karena bertepatan dengan hari libur hingga Senin jadi seharian aku tidak dikunjungi dokter spesialisku. Beliau masih belum praktek. Jadi hari Minggu itu aku hanya tidur dan makan serta mual sepanjang hari. Rasa darah masih kurasakan ketika aku sendawa. 

Dokterku datang keesokan harinya dan beliau memeriksaku.BAB-ku hitam dan aku diambil darah untuk cek lab. Hasilnya HB-ku cuma 7 dan harus transfusi darah. 

Seumur hidup baru kali ini aku transfusi darah. 2 kantong darah yang dimasukkan ke dalam tubuhku melalui selang infus, Namun sebelum ditransfusi darahku diambil lagi hingga 2x. Karena pakai BPJS aku hanya cukup bayar 40rb untuk bayar kurir ambil darah. 

Senin malam baru adikku pulang dan datang ke rumah sakit. Tapi karena aku kasihan padanya aku tidak mau ditemani. Biar saja dia pulang ke kos buat istirahat. Aku cuma minta dia belanja/ bawakan kebutuhanku saja. 

Selama 4 hari aku dirawat dan selalu sendiri. Kadang koko datang atau adiku datang. Karena tahu HB-ku kurang aku minta koko beliin ati ayam. Aku langsung gado 3 ati ayam. Enak juga hihi,, udah lama ga makan ati ayam. 

Di rumah sakit meski sudah dapat makanan tapi rasa lapar dan haus terus menghantui. Untung udah ga muntah tapi BAB-ku masih hitam dan sendawaku masih kayak ada sisa darah. 

Dokter ditelepon ketika tahu aku masih ada keluhan seperti itu. Dan hasilnya aku harus menjalani endoskopi ulang setelah tanggal, 26 Desember karena dokter cuti. Dan pemeriksaan endoskopi itu di rumah sakit yang berbeda dengan yang sekarang. Lebih jauh pula dari rumah 

Berikut ini hasil lab-ku :
1. Pemeriksaan Kimia Klinik
  • Glukosa sewaktu : 174 mg/dl ( 70-200)
  • Uric Acid : 4,2 mg/dl (2,4-5,7)
  • Ureum : 15 mg/dl (10-50)
  • Ser creatinin : 1,1 mg/dl (0,57-1,13)
  • Cholesterol : 170 mg/dl (<220)
  • Triglycerida : 89 mg/ dl ( <150)
  • SGOT : 14 U./L (0-31)
  • SGPT : 8 U./L (0-31)
 2. Pemeriksaan Urine
  • Warna : kuning jernih
  • PH : 6,5 (4,8-7,5)
  • B.J. : 1,015 (1,015-1,025)
  • Protein : negatif
  • Reduksi : negatif
  • Urobilin : negatif
  • Bilirubin : negatif
SEDIMEN
  • Leucocyt : Positif (0-1) / LPB --> (1-4)
  • Erythrocyt : Positif (0-1)/ LPB --> (0-1)
  • Epith Cell : Positif (1-2)/ LPK --> (1-15)
  • Cilinder : Negatif
  • Kristal : Negatif
  • Lain-lain : Negatif 

    Karena aku pakai BPJS semua biaya perawatanku selama 4 hari free. Aku cukup salut dengan pelayanan para perawat di rumah sakit itu. Mereka kalau giliran jaga pasti memperkenalkan diri dan menjelaskan pada pasien jika ada perlu apa-apa bisa tekan saklar yang disiapkan di samping tempat tidur. 

    Kamarku ber AC. Petugas kebersihan juga datang tiap hari untuk bersih-bersih. Setiap sore diberi air panas dan washlap untuk sibin. Yah itulah pengalamanku masuk RS lagi gara-gara ga kebeneran makan. Selalu gitu aih…sampe aku bingung harus ngemil apa sekarang. Yang aman aja yang kumakan tapi kok blenger juga. Ah ya sudahlah ya.
    Read More

    Detik-Detik Pemulihan Kesehatanku

    Agustinadian Susanti | Senin, Desember 05, 2016 | 8 Comments so far
         Di tengah keputusasaanku menghadapi penyakit asam lambung yang menyiksaku setahun terakhir ini, tak ada lagi yang bisa menolongku. Seakan duniaku berakhir. Aku tak tahu lagi harus berobat kemana, minum obat apa, hanya bisa menjalani hariku menerima dengan ikhlas kelemahan tubuhku. Dehidrasi karena muntah berjam-jam. 

       Pagi itu tenggorokanku terkena kuku jari saat aku mencolokkan 2 jariku ke dalam mulut agar bisa muntah dan harapannya bisa bernapas plong. Saat kulihat bercak darah segar keluar dari mulutku aku lemas dan menangis. Aku berdoa kepada Tuhan aku sudah tak sanggup lagi. Ini sudah terlalu dalam dan bahaya jika terus kulakukan setiap hari. 

       Aku memuji Tuhan sambil menangis, dan memberikan 2 pilihan kepadaNya. Jika Tuhan ingin nyawaku aku akan menyerahkannya. Aku siap pulang ke surga kapanpun Tuhan mau. Tetapi jika Tuhan masih sayang kepadaku, aku pasti diberi kesembuhan. Aku berserah penuh kepadaNya. 

          Perutku nyeri dan tenggorokanku iritasi. Aku mencoba rileks dan pelan-pelan aku menenangkan diriku. Aku minta tolong teman dekatku untuk mengantarku ke rumah sakit. Aku mau endoskopi ulang, aku ga mau tau aku harus segera endoskopi itu yang ada di pikiranku. Setelah temanku menyanggupi mengantarku malam sepulang kerja ia ke kontrakanku, kami sudah siapkan bekal makan karena pasti antri dokter sampai malam. Kemarin aja sampai jam 12 malam baru pulang. 

        Dengan kesakitan aku naik ke motornya dan aku sudah menyiapkan surat rujukan berserta berka lainnya serta fotokopi kartu bpjs. Biasanya aku menelepon dulu sebelum periksa, tapi mengingat waktu lalu meski sudah telepon tetap saja antrian dihitung saat pasien datang. Jadi kuputuskan tidak telepon dan langsung ke rumah sakit. 

        Sesampainya di sana, aku kecewa karena ternyata dokterku cuti 2 minggu karena keluar negeri. Aku tambah kesakitan. Lalu kami berunding, bagaimana kalau ke dokter umum saja yang penting dikasih obat untuk obati radang dan nyeriku. Tapi aku menolak. Aku bingung dan hanya terpikir cari shinse. Tapi nyari dimana, ini sudah malam. Temanku baru bisa nyari kalau hari Minggu, saat dia libur kerja, sedangkan itu masih hari Senin. 

        Lalu kami mengambil keputusan untuk pulang dan minum obat terakhir yang masih ada di rumah. Keesokan harinya, aku gelisah ingin cepat-cepat mencari shinse dan berobat. Aku browsing di google, aku baca semuanya. Tapi aku tidak menemukan apapun yang membuatku yakin tuk berobat. Aku terus berdoa. Sambil tiduran karena lemas muntah, aku nonton youtube festival kuasa Allah Ps. Philip Mantofa. Mujizat kesembuhan Tuhan kerjakan disana. Aku juga ingin disembuhkan Tuhan. 

       Keesokan harinya aku terdorong untuk menulis status di facebook cari shinse di semarang. Salah satu komentar dari mantan teman kantorku dulu memberikanku titik terang. Kalau ada teman gerejanya yang jadi shinse di Medan dan kini sedang ada di Semarang. Tanpa ragu aku coba menghubunginya. Aku hanya tergerak saja tanpa berharap lebih. Aku tanya lokasinya dimana, tapi dia ternyata sedang menginap di rumah temannya. Aku bilang aku mau kesana tapi besok nunggu ada yang antar aku. 

       Tapi dengan kemurahan Tuhan, Tuhan gerakkan dia yang datang ke kontrakanku malam itu juga. Aku kedandapan, hanya ada sedikit uang di dompetku. Aduh bagaimana ini. Sejam menunggu akhirnya dia datang. Penampilannya rock and roll banget, ga kayak shinse. Tapi don’t judge the book by its cover. Dia membawa berbagai perlengkapan untuk mengobatiku. 

       Oh sungguh kalau Tuhan punya mau Dia bisa gerakkan orang yang tidak kukenal sebelumnya untuk jadi alatNya mengobatiku. Aku merasa sangat diistimewakan. Biasanya aku harus antri berjam-jam di rumah sakit buat ketemu dokter spesialis hebat, tapi ini dia datang ke kontrakanku dengan sukacita pelayanan. 

       Dia mulai memeriksa nadiku. Dia tak banyak bicara, terus melakukan banyak tindakan. Tusuk jarum, bekam, pijat, kurang lebih 2 jam dia mengobatiku dengan serius. Keesokan harinya aku sembuhkah? Belum. Aku masih muntah.. dia menanyakan kondisiku tapi belum ada perubahan. Putus asa? Tidak. Dia bilang akan datang lagi untuk ngobati aku. What the **** ?! Uangku cukup ga ini aduh.. rasa was-was melanda tapi demi sembuh apapun kulakukan. 

        Aku minta obat minum dan dia membelikannya. Baik banget kan? Digerakkan Roh Kudus ya gitu. Cuma dia yang tahu namanya. Pake huruf cina entahlah. Terapi kedua dia benerin saraf-saraf perutku. Sakit banget abis diterapi. Tapi aku coba tahan. Dia menantangku kalau aku harus sembuh sebelum dia balik ke Medan. Dia juga memberikanku nasehat untuk selalu happy dan jangan sedih. Terapi ketiga paling menyiksaku. Aku belum pernah berobat sesakit ini. Detoksifikasi dengan cara ekstrim menurutku yang membuat kakiku kebakar dan tanganku kaku nyeri. Sekali lagi aku hanya pasrah dan menurut saja. 



        Keesokan paginya, aku yang biasa lihat jam 4 teng masuk kamar mandi untuk muntah, pagi itu sungguh beda. Aku bisa malas bangun tidur karena aku nyenyak sekali tidur hanya masih kurasakan kakiku yang sakit. Tapi dia bilang nanti sembuh sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bisa buang gas tanpa muntah. Biasanya muntah berjam jam dulu baru buang gas kali ini tidak, Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan. Tuhan masih sayang kepadaku. 

    senyum :)  bebas dari muntah pagi
        Pagi itu Tuhan memberitahuku bahwa aku sudah sembuh. Meski masih minum obat dan pemulihan tapi aku bersyukur tidak muntah lagi. Endoskopi sudah tidak terpikirkan lagi. Aku hanya harus jaga makan dan hati agar tidak mudah sedih.Thanks God.Kini aku bisa tersenyum bahagia bisa bebas dari muntah pagi...semoga tetap sehat meski masih minum obat hingga sekarang.

    Read More