Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • ORDER DESIGN
  • ABOUT ME
  • JUAL KEFIR
JASA DESIGN BLOG KHUSUS BLOGSPOT & JUAL PRODUK KEFIR

Sulitnya Dapat Kamar Rawat Inap di Semarang

Agustinadian Susanti | Kamis, Maret 24, 2016 | 30 Comments so far
    Setelah pengalaman ke IGD, esoknya aku check up lagi ke RS Banyumanik. Untuk ketemu dokter SpPD, KGEH – Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastro Enterologi Hepatologi (spesialis pencernaan dan hati). 
   Dokter ini yang pernah endoskopi aku 8 tahun lalu. Setelah kusampaikan keluhanku muntah asam lambung keluar bercak darah dan perih di kerongkongan tiap pagi dari jam 4-8 selama 7 bulan berturut-turut akhirnya dokter langsung sarankan endoskopi ke RS. Panti Wilasa Dr. Cipto. Aku dikasih obat Lanzoprasol, Domperidon dan Ulsidex 2x sehari sebelum makan. 
    Sebelumnya, aku cari tahu kapan dokterku praktek di RS dr, Cipto. Aku mendaftar via telepon untuk dapat nomor antrian kemudian pada hari H ada daftar ulang kembali. Aku dapat nomor urut 21. Dokter praktek jam 19.00 baru datang sekitar jam 20.00. Aku naik motor dengan adikku sampai disana jam 19.30. Aku baru diperiksa jam 21.00 dan dokter kasih surat rawat inap untuk dilakukan endoskopi. Sayang TPPRI (Tempat Penerimaan Pasien Rawat Inap) sudah tutup jadi aku harus kembali besok paginya. 
   Sebelum kesana aku hubungi via telepon, jam 7 pagi oh masih kepagian nanyanya karena petugas baru datang. Aku telepon lagi jam 8.30 ternyata kamar sudah full ga ada yang kosong dari kelas 1 -3. Berkali kali hampir setiap hari aku rajin bertanya ada kamar atau tidak namun jawaban tetap tidak ada. Seakan akan petugasnya sudah hafal diluar kepala. Udah penuh aja ketika ditanya apalagi tau kalau aku bpjs kelas 3. Karena putus asa akhirnya aku tanya yang ada kamar apa? Utama A katanya. Lalu aku tanya CS BPJS di situ katanya ga boleh pindah ke kamar utama A yang semalemnya kamarnya seharga 475rb. karena aku kelas 3 nanti tombok banyak sekali dan akan kena masalah. 
  Lalu aku tanya gimana kalau ga dapat dapat kamar terus sampai kapan saya nunggu endoskopinya? Petugas cuma bilang sabar dan rajin nanya aja mbak. Telepon atau kesini. Udah habis banyak pulsaku buat nanya kamar. Kalau naik motor setengah jam baru nyampe Cuma nanyai kamar? Hadeh… ini kalau yang periksa orang rumahnya jauh dan ga mampu akan ribet dan boros ongkos. Ya udah akhirnya sampai check up berikutnya tetep ga ada kamar. Aku tanya dokternya bagaimana sebaiknya agar cepat dilakukan endoskopi karena aku sudah ga kuat, muntahku yang tadinya selesai jam 8 kini jam 10 atau kadang lebih baru selesai. Tenggorokanku rasa nya sudah iritasi. Lemes banget. 
    Dokter buat surat rujukan ke Paviliun Garuda RS Kariadi tapi rawat jalan. Surat udah dibuat tiba tiba dokter tanya saya kelas berapa? Setelah aku bilang kelas 3 dokternya langsung tepok jidat. Waduh!! Ga bisa harus kelas 1. Surat yang udah terlanjur dibuat ditarik lagi, dan aku kembali dikasih surat control rutin rawat jalan dan pasrah nunggu kamar kosong. Adikku langsung mengusulkan ganti kepesertaan kelas 1 biar bisa endoskopi meski rawat jalan. Yah kemungkinan bulan April aku lanjutkan lagi perjuanganku endoskopi. 
    Aku sempet tanya via telepon ke pavilion garuda jadi kalau periksa kesana pake bpjs tetep bayar iuran 150rb untuk semua jenis tindakan. Ya sudah lah ya yang penting berhasil endoskopi. Ini ada apa sebenernya ama isi perutku..biar segera dapat solusi. Aku kan juga pengen nikmati indahnya dunia kalau sehat,.
Read More

Pengalaman ke IGD

Agustinadian Susanti | Kamis, Maret 03, 2016 | 23 Comments so far
   Sudah hampir 6 bulan ini tiap pagi kira-kira jam 4-8 pagi muntah asam lambung bercampur bercak darah kecoklatan kadang juga hitam. BABku agak encer tapi tidak terlalu encer. Pola makanku kacau, sedikit dan terbatas di menu tertentu. Kadang bisa sejam lapar atau maksimal 2 jam harus diisi makanan lagi. Entah mungkin kemarin lagi ga kebeneran aja, pisang yang biasanya aku makan dengan lahap kali ini berasa agak pait sampai lidahku terasa kebas. 

    Perutku mulai mual dan kepalaku pusing, rasa tidak nyaman itu membuatku muntah hingga berjam-jam. Dan bercak darah kembali muncul. Aku mulai panic dan tidak kuat karena muntahku tak kunjung berhenti. Ada rasa terbakar di kerongkonganku. 

   Aku meminta adikku mengantar ke IGD terdekat. Sepanjang perjalanan aku muntah di atas motor. Aku sudah lemas. Sampai di IGD disuruh berbaring aja sama perawatnya. Diperiksa dokter jaga dan menunggu adiku mengurus pendaftaran. Aku terus muntah. Ternyata adiku mendaftar di poli penyakit dalam. Aku turun dari ranjang IGD dan periksa ke dokter. Aku duduk masih dalam keadaan muntah. Dapat antrian nomor 13 pula. Aku sempoyongan masuk ke dalam ruang dokter. Dokternya udah kayak nenek-nenek ketika mengetahui aku muntah dia kayak jijik gitu. 

   Dia tidak memeriksaku sama sekali cuma bilang, loh kok muntah? Jangan muntah disini. Adiku langsung bilang, dia bawa tas kresek kok dok. Wah ya harus mondok kalau gitu, tapi suster bilang kamar sudah penuh jadi harus dirujuk ke rumah sakit lain. Dokter itu membuat surat pengantar dan memberikannya kepada kami sambil kayak orang ngusir gitu. Udah ini ini… tunggu diluar. 

    Adiku menghubungi temannya untuk bawa motor karena kami akan naik taksi. Di pinggir jalan aku nunggu teman adiku datang, aku masih muntah. Aku pegangan tembok rumah orang karena lemas. Setelah kira kira 20 menit teman adiku baru datang. Udah gitu masih nunggu cari taksi lagi. Plus hp adiku baterenya lowbat. Dia cari pinjaman telepon di kantor rumah sakit. 


   Setelah menunggu beberapa saat taksi datang. Aku masih muntah. Sampai di IGD rumah sakit kedua, aku tiduran aja menunggu adiku mengurus administrasi dengan BPJS. Tak ada yang memeriksaku ataupun menghampiriku. Aku terus muntah. Dan tak terasa ternyata aku datang bulan tapi lupa tak bawa pembalut. Waduh kebayang betapa ga nyamannya antara muntah dan mens tanpa pembalut. 

   Aku memanggil salah seorang suster dan meminta pembalut tapi dengan ketus suster itu bilang tidak ada. Dan dia ngacir pergi. Aku menunggu kira kira 1 jam, adiku datang dan bilang kalau kamar udah penuh jadi aku pindah ke rumah sakit ketiga. Di rumah sakit ketiga aku diperiksa dokter jaga dengan cermat. Ada 2 dokter yang memeriksaku. Aku ditensi, disuntik dan direkam jantungku. Muntahku masih belum berhenti juga. 

   Dokter memberiku lanzoprazole tapi kumuntahkan lagi. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB tapi aku masih belum berhenti muntah. Hingga aku mulai mengantuk sehabis disuntik namun masih terasa mual. 

   Dalam keadaan setengah sadar, aku kaget seperti ada dokter menghampiriku. Aku hanya merasa nyaman saja. Kulihat dokter itu bersama seorang dibelakangnya menggunakan jubah warna putih tapi bukan jubah dokter. Aku melihatnya samar-samar tapi tak terlihat wajahnya. Dokter itu tidak bilang apa apa. Dan aku mulai memperhatikan dengan seksama keluar tirai lho dokter yang memeriksa aku kok duduk di tempatnya lha yang kesini tadi siapa? Aku tertidur kembali sebentar dan terbangun dalam keadaan lebih baik. Muntahku berhenti dan aku mulai makan. 

   Aku masih bertanya tanya siapa dokter dan seorang berjubah yang tak kelihatan wajahnya itu. mungkinkah IA TUHAN YESUS? Tuhan menjengukku di IGD memberiku kekuatan dan aku berhenti muntah. Setelah makan pisang yang kubawa dari rumah aku minum obatku. Pisang yang kubawa untungnya tidak pait seperti tadi siang. Kemudian Adikku datang dan membawakan bubur nasi bersama telur rebus yang direbus oleh teman adikku yang kos di dekat rumah sakit. Aku makan dengan lahap dan kondisiku mulai membaik. 

   Adiku mengajakku pulang malam itu juga karena aku tidak perlu diopname. Tensiku baik, jantungku normal yang tak beres hanya pencernaan saja. Aku diberi obat ulsafat sucralfate untuk melapisi dinding lambung, scopma untuk nyeri perut, ondansetron untuk mual/ muntah, dan lanzoprazole untuk menekan produksi asam lambungku.

    Pulang kerumah aku kuat bonceng motor seperti ada yang menopang punggungku sepanjang perjalanan. Aku pulang kerumah pk.00.00 WIB. Aku pun bisa tidur setelah serangkaian perjuangan muntahku meski esok paginya masih muntah asam lambung yang tak terhindarkan. Terima kasih Tuhan Yesus Kau sudah menguatkanku dan mengunjungiku di IGD.
Read More