Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • JUAL SUPERGREENFOOD

Rice Cooker untuk Pacarku yang Taurus

Moocen Susan | Selasa, Maret 14, 2017 | | 8 Comments so far
Koko, begitulah aku memanggil pacarku. Dia adalah orang yang sayang kepadaku seperti almarhum bapakku dan demikian juga aku sangat menyayanginya. Sejak bapakku tiada aku seperti menemukan sosok bapakku pada Koko. Mereka berdua sama-sama berzodiak Taurus. Iya Taurus “Tau-tau kurus.” Cara berpakaiannya pun sama persis, tinggi badannya juga. Mungkinkah dia hasil reinkarnasi bapakku? Hehe…#ngaco 


Emang sih dulu aku pernah pengen banget punya pacar yang kayak bapakku dari sisi kesabaran tentunya. Dan ternyata Tuhan benar-benar mengabulkan doaku. 
Setelah 15 tahun berdoa, hiks...akhirnya Tuhan kirimkan seorang cowok kepadaku. (aih koko, lama banget datangnya, kenapa baru sekarang datangnya, ternyata kau terapung-apung dalam botol di tengah lautan)


Koko, termasuk cowok sederhana yang demikian sabar menghadapi aku yang masih labil dan kadang sering jutek namun dia ga pernah marah padaku.

Kadang aku menyadari kalau selama ini dia yang lebih banyak mengalah dibanding aku. Bertengkar hebat namun bisa berbaikan kembali. Ya kurasa hampir semua pasangan seperti itu. Dia tidak romantis, tidak pernah merayu atau memujiku, sungguh berbeda dengan ekspektasiku sebagai fans berat Drama Korea. 


Kisah pertemuan kamipun terbilang biasa saja, yang paling ngebetein waktu pertama kenal, chatku cuma dibalas dengan emoticon. Gemesin kan. 

Ya tapi memang kurasa lebih baik jika dia seperti itu jadi ga terkesan gombal atau NATO (No Action Talk Only).  Lambat laun aku merasakan kasih sayangnya makin bertambah. Apalagi waktu aku sakit di kontrakan sendirian. Koko belikan aku obat shinse saat hujan deras padahal tempatnya jauh sekali dari rumahnya.

***

Waktu itu, asam lambungku naik karena salah makan hingga muntah berjam-jam disertai bercak darah. Kemudian, aku SMS koko agar dia datang ke kontrakanku. Padahal rencananya koko mau beliin aku obat shinse lagi karena obatku sudah habis. Berhubung kondisiku kritis aku memintanya langsung saja antar aku ke rumah sakit. Untungnya hari itu Minggu, jadi koko bisa menemaniku dan mengantarku. 

Dari jam 11 siang sampai 6 sore koko menemaniku, sedangkan aku masih saja muntah meski sudah ada di kamar pasien. Kalau ga dipaksa makan sama dia, mungkin aku masih nuruti rasa mual ingin muntah terus. 

Sore itu, makanan rumah sakitpun diantar ke kamarku. Namun aku masih belum bisa memakannya. 

“Koko, ga makan?” tanyaku 

“Kamu itu lho yang harus makan, dah jam 6 sore. Dari pagi ga kemasukan apa-apa.” Jawabnya galak namun tetep bikin aku tersenyum, “nanti aja aku makan kalau kamu sudah makan.” (Oh so sweet, perhatian banget seh) 

Makanan rumah sakit yang aku ga makan, koko yang abisin. Karena memang aku banyak pantangan makan sejak sakit GERD (Gastroesophageal Refluks Disease), itu lho sakit yang disebabkan karena asam lambung yang naik ke kerongkongan akibat klep lambung lemah. (FYI)

Setelah keluar dari rumah sakit, aku dapat kabar kalau koko kena typus. Aku pikir apa karena kecapean nemeni aku kemarin dan anterin aku hujan-hujan ke dokter? Tapi dia bilang bukan karena itu. Memang sejak mamanya meninggal, koko jadi jarang makan pagi. Sehari cuma makan 2 kali itupun diluar jam makan orang pada umumnya alias telat. Padahal kerjanya termasuk berat dan membutuhkan energi ekstra. 

Baru sembuh dari sakit typus, koko kecelakaan. Oh hiks aku jadi tak tega. Rasanya aku ingin kerumahnya. Namun koko menolak. Dia bilang tak apa, hanya lecet sedikit karena kepleset di jalan licin setelah hujan deras. Tapi dia mengeluh badannya demam tinggi karena memar di kakinya. Aku pikir jangan-jangan dia kena tetanus. Aih pikiranku kemana-mana. 

Yang bikin cemas lagi, Koko itu tipe orang yang malas ke dokter sama kayak almarhum bapakku. Setelah kejadian kecelakaan ganti lagi masalahnya, koko alergi makanan sampai gatal-gatal di sekujur tubuhnya. 

Sebagai pacar aku merasa bersalah karena tidak bisa ada disampingnya saat dia mengalami musibah. Jadi aku mulai berpikir apa yang bisa kulakukan untuknya. Bagaimana dia makan kalau sakit sendirian? 

Selama ini koko seringnya jajan diluar, tapi entah mengapa kemarin koko nyeletuk pengen beli rice cooker.  Aku pengen koko makan 3x sehari dan berharap berat badannya bisa bertambah beberapa kilo lagi sama seperti saat mamanya masih hidup dulu dengan menambah porsi nasinya.


Emang sih bisa saja beli nasi dan lauk diluar tapi kan mesti terbatas dan ga sehat. Aku cuma mikir kalau koko sakit terus ga kuat keluar rumah buat beli nasi, setidaknya kalau ada rice cooker di rumah kan bisa punya persediaan nasi lebih banyak dan lebih irit tentunya.  Kalau seperti waktu kena typus, kita tahu bersama kan kalau orang kena typus itu harus makan yang lunak-lunak. Kalau ada rice cooker tinggal kasih air lebih banyak ke dalam beras. Jadi deh nasi lembek/ mau jadi bubur sekalian. Praktis. bisa lebih banyak, dan sehat. 

Ah, aku benar-benar berharap bisa mewujudkan hal ini. kasihan koko kalau dia sampai kurang makan. Lebih ga tega lagi kalau dia makannya cuma mi instan. Aduh, mending nasi ma telur kecap deh.

Mungkin aku terlalu lebay kuatirin soal makan, tapi ya begitulah adanya. Sejak aku sakit gangguan asam lambung, aku jadi lebih care sama orang sakit juga. Dan paling cerewet kalau koko belum makan.

Nah, oleh sebab itu aku ingin sekali memberikan hadiah sebuah rice cooker  untuk pacarku...semoga aku bisa mewujudkannya demi rasa sayang dan cintaku padanya.

 
Update story : Akhirnya aku menikah dengan koko juga di tahun 2021. Jodoh memang tak kemana....

Pindah Kontrakan Baru Lagi

Moocen Susan | Kamis, Maret 09, 2017 | 2 Comments so far
Setelah kejadian yang menimpa kami beberapa waktu lalu, akhirnya pada hari yang ditentukan yaitu tanggal 27 si penipu cuma sanggup memberikan separo dari uang yang telah dicurinya. Untung aja, akhirnya penggugat yang merupakan kakak dari penipu itu mengembalikan sisa uang yang ditilep adiknya. Kami juga sudah dapat kontrakan baru yang dapatnya sama sekali ga terduga. 

Sebenarnya sih adiku sudah dapat tempat baru juga hanya saja katanya tempatnya lebih sempit jadi dia sudah mulai ancang-ancang buat jualin smua barang yang ga penting. Pagi itu iseng-iseng aku lagi ngobrol ama salah seorang tetangga, dan kebetulan lewatlah seorang pria di depan kami, lalu ibu itu menawariku untuk menanyakan kontrakan pada bapak itu. Aku tak menyangka hal itu justru dipakai Tuhan sebagai jalan terbaik menentukan kami pindah kemana. 

Sore harinya bapak itu datang ke tempat kami bersama si pemilik kontrakan. Baru kali ini ada pemilik kontrakan datang kepada si calon pengontrak. Mungkin karena kasihan atau digerakkan Tuhan bapak ini mau mengontrakan rumahnya kepada kami seharga uang yang telah dicuri si penipu.

Awal pindah aku shock berat karena lebih jauh dari pasar. Stress aku. Mana wajanku ketinggalan di kontrakan lama. Udah mau pingsan rasae kelaparan mo masak eh wajannya ga ada. Aku coba pinjem tetangga sebelah eh orangnya pelit tingkat Cleopatra. Untunglah adiku akhirnya mau nganterin aku ambil wajan meski sedikit dongkol karena capek bolak balik. Kepalaku makin pening karena stress dan lapar. 

Setelah makan aku coba menenangkan diri. Aku yakin Tuhan ga mungkin salah nunjukin tempat. Kontrakan baruku ini meski sederhana tapi bersih. Aku punya kamar mungil berukuran 2x3. Waktu dapat rumah ini rasanya seperti rumah baru. Di situ aku bersyukur. Malam harinya aku coba jalan-jalan survey lokasi sekitar, setidaknya aku bisa menemukan tempat jual air isi ulang dan LPG, itu penting banget. 

Aku tak menyangka setelah aku jalan keluar di sebelah kanan isinya warung air isi ulang dan LPG, jalan raya waow… aku seperti melihat Tanah perjanjian setelah keluar dari tanah Mesir. Lebay banget hahaha.. Apa ini? Kenapa aku stress? Tuhan itu baik. Lihat aja tetangga-tetangga jauh dari pasar tapi ga stress. Ada beberapa penjual makanan tapi sayang aku ga bisa makan. 

Kadang adiku ga bisa nganter aku ke superindo, akhirnya aku naik gojek. 2 hari sekali sekarang aku pasti ke Superindo buat belanja. Tuhan benar-benar melatihku melawan agoraphobiaku. Kalau udah nyampe Superindo nih, lihat kentang, telur, apel. Bumbu-bumbu untuk masak komplit dan fresh-fresh kayak ada di Taman Eden… hwaaa surga surga ini.. Yah meski aku cuma bisa makan dengan menu yang itu-itu saja namun aku tetep bersyukur sudah bisa lepas dari obat dan ga muntah-muntah lagi kayak dulu. 

Pelan-pelan aku mulai menata dan menikmati hidupku. Lingkungan tempat tinggal baruku sangat nyaman dan tenang. Tetangga yang cuek namun tetap baik ga ada yang reseh kayak di kontrakan gaharu. Pokoknya nyaman banget. Oya aku disini juga mulai ikut kegiatan arisan dan pertemuan dengan ibu-ibu PKK. Aku makin hari makin bersyukur. Tuhan sudah selalu menyertaiku melewati banyak hal yang menyedihkan. Kini saatnya meniti karirku. Tetep kerja online hehe… Thanks God buat penyertaanMU.

Masalah di Kontrakan Baru

Moocen Susan | Kamis, Januari 19, 2017 | 5 Comments so far
     
Setelah kurang lebih setahun kami menempati kontrakan lama, akhirnya kami harus pindah juga ke tempat lain. Harga naik dan kami tidak mampu bayar. Pada hari yang ditentukan aku dan adikku pindah. Sebelum pindahan, aku sempatin dulu buat masak makan malam. Ya biar kalau lapar tinggal makan. Pikirku pasti karena capek angkat-angkat bakal lapar. Kira-kira pukul 5 sore kami pindahan. 

*** 

     Rumah kontrakan baru itu cukup bagus, lebih bagus daripada kontrakan lama. Ada 2 lantai tapi harganya jauh lebih murah? Hm, seharusnya sudah mulai curiga ada yang tidak beres. Tapi karena aku tak mau negative thinking, ya aku manut saja pilihan adiku. Kami sewa 1 mobil pick up dan barang kami berdua cukup banyak. Ya karena barang serumah gitu loh, kalau mau ngekos pun tak cukup lah barang segitu banyak. 

  Aku mulai masukkin barang-barang ke dalam rumah. Sedangkan adiku pergi sebentar ambil barang yang ketinggalan di tempat lama. Baru aku mau nyalain komputer karena ada kerjaan, eh samar-samar kulihat ada 3 orang yang menuju ke kontrakan kami. Seorang ibu, anak perempuan, dan menantu laki-laki bertubuh tinggi besar dan agak gendut. 

   Aku pikir mereka mau menyapaku, sudah pasang senyum ramah. Eh ga kusangka, menantunya marah-marah. “Lho kamu siapa?” tanyanya dengan nada tinggi 

“Sssaya yyang kontrak disini pak.” Jawabku gemetaran. What the hell ini ada apah? Gumamku 

“Kamu tahu gak ini rumah saya, dan rumah ini tidak dikontrakkan,. Kamu kok bisa kesini kontrak ma siapa?” 

     Aku ingat adikku sempat sebut satu nama dan aku jawab saja dengan nama itu. Ternyata penipu itu adalah adik iparnya sendiri.Wah aku makin mual karena ada masalah yang datang tiba-tiba seperti ini. Aduh kok adikuu pas ga ada sisan, jadi aku semakin panic. Mana hp ngehang juga. 

   Baru mau telepon adikku eh si empunya rumah marah-marah terus, dia maksa aku untuk keluarin semua barang yang barusan aku masukin ke dalam rumah. Uh, mana perutku laper juga, untung udah masak tadi. Adiku ga baca bbmku. Oh Tuhan ini bukan pertama kalinya aku diusir jadi entah kenapa meski aku panic diluar ada yang bikin tenang di dalam. 

    Selang beberapa waktu adikku datang, dan ia pun sontak kaget serta minta maaf sama yang punya rumah. Sedangkan aku makan diluar pagar kayak anak SD disetrap guru. Kucium aroma tak sedap astaga rupanya sebelahku selokan. Bisa dibayangin perpaduan antara rasa makanan, dan aroma si got. Ada anak kecil lihatin aku. Pikirnya orang gila kali makan di samping selokan. Kudengar sayup-sayup di dalam si pemilik rumah marah-marah. 

    Dia ga mau tahu pokoknya malam itu kami ga boleh masuk. Adiku dibawa mencari si penipu malam-malam. Aku ditinggal sendirian bersama barang-barang seabrek. Kedinginan, kembung di teras sendirian sampai jam 1 dini hari adiku baru pulang dengan tangan kosong. Penipunya kabur dan kami diberi waktu 3 hari untuk menemukan penipu itu. 

    Alasan si pemilik rumah tidak lapor polisi dulu karena masih ingin menyelesaikan dengan jalur kekeluargaan. Tapi kasihan adiku juga kok jadi dia yang repot cari sendiri. Sampai sakit adiku memikirkan hal itu. Tapi tetap saja sebagai kakak aku tak bisa berbuat banyak karena aku jarang diajak komunikasi ma adikku. Yang terpikirkan Cuma lapor RT setempat berkat saran teman. Keesokan harinya adikku pergi pagi-pagi mencari si penipu. 

    Yes ketemu, siangnya penipu datang tapi ga bawa uang. Ye sama aja boong. Dia janji akan kembaliin uang tgl 27 Januari 2017. Selama itu aku disuruh untuk waspada kalau-kalau yang punya rumah datang aku harus sms RT, RW, keamanan kampung ya biar ada yang melindungi. Sementara rumah selalu terkunci kalau-kalau yang punya datang.

    ***

 3 hari berlalu. Si pemilik tidak datang hari Minggu itu. Tuhan melindungi kami. Hujan deras dari pagi membuat si pemilik rumah tak datang. Namun keesokan harinya kira-kira pukul 3 sore datanglah om gendut itu bersama seorang pria paruh baya yang ternyata adalah tukang yang disuruh untuk mengambil pompa air di kontrakan kami.. Hm ini modus pemaksaan secara halus untuk kami keluar. Bayangin hidup tanpa air. Ini ultimatum pertama. 

   Tapi sekali lagi Tuhan menenangkan hatiku. Untunglah tetangga disekitar sini baik-baik. Jadi aku tak perlu takut kekurangan air. Kalaupun tak ada air ledeng Tuhanku masih punya air hujan, hihi.,… Aku rasa si pemilik rumah itu tak punya hati nurani. Dia benar-benar tak berbelas kasih dan tak berperikemanusiaan. Bagaimana mungkin dia mengambil pompa air dengan alasan pompa air di kantornya rusak dan mau dipasang yang dari sini. Apa dia ga mikir ada 2 manusia yang butuh air disini? Tapi ya sudahlah mungkin Tuhan pengen saya dan adikku olahraga. Ngangsu di rumah tetangga tiap pagi dan sore. 

    Kami dikasih waktu lagi sampai tgl 27 ya 10 hari lagi. Jika dalam 10 hari uang tak kembali kami tetap harus pergi dan jika kami memaksa tinggal disini maka pemilik rumah akan melaporkan kami juga ke polisi atas tuduhan penadah barang curian dan perbuatan tidak menyenangkan. Dia juga akan melaporkan adiknya yang menipu kami. Hm, rumit ya.. Semoga sebelum tanggal yang ditentukan uang kami bisa dikembalikan dan kami bisa pindah ke tempat baru.

Pengalaman Rawat Jalan ke RSUP dr. Kariadi Semarang

Moocen Susan | Jumat, Januari 06, 2017 | 3 Comments so far
Rencananya aku harus menjalani endoskopi ulang. Kali ini endoskopinya akan dilakukan di rumah sakit yang berbeda. Jujur baru pertama kali aku mengurus ini sendiri. Mulai dari cari tau di internet website rumah sakit itu dan artikel-artikel yang menulis tentang prosedur pendaftaran. 



Aku menghubungi CS untuk mengetahui prosedur rawat jalan pasien di poli Merpati dengan BPJS. Dari CS kudapatkan info menarik. Karena RS Kariadi menyediakan kemudahan dalam mendaftar pasien rawat jalannya. Bisa via telepon ke maupun online disini  

Aku memilih mendaftar via online sebab jika telepon susah masuknya, kadang mesin penjawab yang angkat dan itu bikin boros pulsa kalau ga nyambung cuma sampai di mesin penjawab doang. 

Dari artikel di web resminya kudapat info bahwa jika mendaftar via online siapkan nomor rekam medis yang tertera di kartu berobat. Untungnya aku sudah punya kartunya karena pernah dirawat di Kariadi meski waktu itu masuk UGD. 

Setelah kupilih unit, poli, dan kode dokter, aku masukkan rencana tanggal pertemuanku dengan dokter yang sama di rumah sakit yang berbeda. Pendaftaran bisa dilakukan max 1 bulan sebelumnya dan min sehari sebelumya.
 

Setelah mendaftar online aku mendapat sms dari admin bagian pendaftaran rawat jalan. Jika ingin mendaftar sebaiknya sehari sebelum jadwal praktek dokter. Kebetulan dokterku adalah dr. Hery Djagat, SppD KGEH, yang praktek hari Senin, Rabu, Jumat. 

Aku memilih hari Jumatnya karena kupikir ah hari pendek siapa tahu yang antri dikit. Setelah itu kira-kira hari Selasa, aku dapat sms balasan dari admin untuk melakukan daftar ulang 2 jam sebelum waktu praktek dokter. Jumat biasanya mulai pk 13.00 – 17.00 WIB 

Hari Kamis aku dapat sms pemberitahuan kalau ada perubahan jadwal dokter yang mana lebih pagi yaitu mulai jam 09.00-12.00 WIB. Dan pendaftaran dibuka mulai nya saja jam 06.30 WIB 

Pagi itu terasa berbeda, biasalah psikosomatisku kumat kalau harus pergi sendirian dan kondisi lagi drop AV (aunt visit alias mens) ga ada nafsu makan perut mules, sakit mual eneg, campur-campur. Aku harus naik ojek sendirian, adiku masih tidur jam segitu adowh…ini perjuangan banget. 

Aku dah bawa bekal praktis, bubur nasi dan telor dadar kecap. Apel 4 buah plus pisaunya kubawa sekalian buat antri dokter. Aku cuma kuatir kalau dokternya datang ga on time kan kalau aku laper bisa makan. Udah kuprediksi semuanya, atur jam masak, makan, berangkat, dll.

 Jam 06.30 WIB aku berangkat dari rumah kosku dijemput tukang ojek dadakan. Ongkosnya separonya naik taksi. Lumayan lah pikirku. Pagi tadi ujan, tukang ojekku sempat ragu, tapi aku harus ke rumah sakit, ya udah lah nunggu terang dulu ujannya. 

Tuhan baik. Hujannya berhenti walau sejenak. Aku berangkat ke rumah sakit dalam keadaan bawa bekal banyak dalam 1 tas besar udah kayak orang piknik lah demi lambung sensi. Eits, itu tindakan preventif yang sering kulakukan kalau bepergian keluar rumah. 

 Sampai di tengah jalan, ujan rintik-rintik tapi masih okelah buat terus jalan. Aku baru inget kalau berkas rujukan belum ku fotokopi. Untung di depan rumah sakit udah buka, ya udah aku kesono. Ojekku ikut antar aku masuk dan nunggu aku di antrian pendaftaran ya emang kupaksa ikut…hihi..

Di teras depan pintu ada petugas yang jaga, antrian sih ga terlalu banyak pas pertama. Teorinya pasien disuruh datang 2 jam sebelumnya yaitu pendaftaran dibuka pk. 07.00, tapi setelah dapat info dari pendaftaran kalau jam buka nya sudah dimulai pada jam 05.30 ck ck ck.. (kalah start)

Aku menyerahkan fotokopi surat rujukan 2 lembar dan menunjukkan sms registrasi kepada petugas. Lalu ia memberiku nomor antrian 44. Aku masuk ke dalam ruang tunggu astaga bujubuneng banyak amat pasiennya….maklum dari desa begitu tahu yang antri di rumah sakit kota sebanyak ini jadi kaget. Tapi untungnya banyak loket juga dan prosesnya cepet. 

Perutku udah krucuk-krucuk aja-kelaperan, padahal tadi pagi udah makan jam 6. Ini belum juga jam 8 kok sudah berkunang-kunang. Makin panic makin krucuk-krucuk. Setelah giliranku dipanggil aku maju ke loket dan menyerahkan rujukan asli, nomor antrian dari depan, dan kartu berobat serta kartu BPJS asli dan fotokopi @1 lembar. aku dapat nomor 17. 

Saking paniknya aku lupa kalau kartu BPJS ku ketinggalan, sesampainya aku di poli penyakit dalam. Udah laper, panic pula, di dalam aku menunggu sendirian karena ojekku harus pulang sebentar. Aku makin panic dan makin lapar pusing, untung ada ibu-ibu di sebelahku dia sangat tenang dan bisa tidur padahal dia udah lebih pagi nunggu dokter. 

Aku bener-bener ga bisa konsen kalau laper, rasanya bekal yang kubawa jadi aneh rasanya, aku mual. Mana dokter belum datang pula, iseng-iseng mainan HP eh kok sinyal ga ada. Aku rasanya pengen buru-buru pulang aja ah daripada pingsan disini. Udah mau install my blue bird lagi tapi hp hang. 

Meski aku no.17 tapi aku seperti dapat giliran nomor 7 aja. Sebelum aku dipanggil ke ruang dokter aku dipanggil dulu di ruangan lain buat ditanya-tanya keluhanku. Diperiksa sebentar dan disuruh tensi tapi aku ogah tensi, pusing bo. Ga kuat jalan rasanya. Aku balik duduk lagi sambil makan nasi putih doank. 

Akhirnya aku dipanggil juga. Aku memberikan surat rujukan endoskopi kepada dokter untuk proses selanjutnya. Setelah dapat surat pengantar,  mulai antri kamar, tapi masih nunggu panggilan. Cemasku muncul lagi aduh ini kalau lebih lama disini bekalku keburu abis aku ga bakal kuat jalan keluar. Mana ojekku belum balik pula. Tapi dengan kekuatan Tuhan aku bisa bertahan. 

Akhirnya namaku dipanggil juga aku pikir bisa langsung mondok ternyata aku dibawa satu petugas jalan agak jauh yaitu ke pavilion garuda buat daftarin antri kamar. Anehnya waktu jalan ama petugas aku ga ngerasa takut laper lagi. Padahal tadi udah mo pingsan.
 

Paviliun garuda lebih nyaman, luas dan fresh air..Aku masuk ke ruangan yang sejuk bertemu petugas pendaftar kamar. Aku dapat nomor antrian kamar 157 dan harus nunggu berbulan-bulan lagi untuk mondok dan endoskopi. 


 Ah, akhirmya sinyal hpku menguat.Aku bisa kontak ojekku. Ternyata dia udah OTW jemput aku. Untung semua tepat waktu soalnya ojekku harus jumatan juga jadi ngoyak waktu. But wait, ini dimana ya? Kok beda waktu aku keluar ada si parkiran tapi mobil semua, wah aku tadi lupa jalan ama petugas lewat mana aja. Aku dan ojekku jadi saling mencari. Aku nunggu di kantin pavilion tapi ga nemu ojekku.Malah dia nyuruh aku balik ke tempat semula. What the ?@!!#$#! Rasa lemas pusing mo pingsan tadi sirna brubah jadi rasa ingin cepat menemukan jalan keluar pavilion dan untungnya aku berhasil menemukan jalan pulang. 

 Laper muncul lagi di jalan. Aku akhirnya mampir ke soto depan RS Elisabeth, dan pulang sambil ngemil apel di boncengan brompit. Oh lega rasanya sudah melewati hari ini dengan baik. 

Info CS RSUP Kariadi Semarang : 024-8450800 
Telp info kamar kosong : 024-8413476 ext 7070