Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • JUAL SUPERGREENFOOD

Hasil CT Scan Bapakku

Moocen Susan | Kamis, Juli 03, 2014 | 18 Comments so far
   Hari yang dinantikan tiba, Aku sengaja mandi lebih pagi agar bisa bersiap untuk mengantar bapakku ke ruang CT Scan. Rencana CT Scan jam 7/ 8 tapi perawat baru menjemput jam 09.30 WIB mungkin masih antri. Bapakku berbaring di tempat tidurnya sambil didorong masuk ke lift untuk naik ke lantai 3. Aku dan adikku mengikuti dari belakang. Baru kali ini aku tahu kalau CT scan itu ternyata memakan waktu sejam. 

   Siang harinya bapak diperbolehkan pulang. Hasil lab baru akan keluar keesokan harinya. Jadi hari itu kami berkemas dan pulang ke kos adikku. Besok aku harus mengambil hasilnya di ruang perawatan. Karena jadwal kontrol dokter 5 hari lagi jadi kami memutuskan untuk tinggal lebih lama di Semarang dulu daripada bolak balik Blora. Setelah menyelesaikan administrasi kami menuju ke kos adikku. Dengar-dengar biaya CT scan berkisar 3.5 jeti. Tapi oleh kemurahan Tuhan, it’s free for us. 

   Kami dijemput adikku dan temannya naik brompit lagi. Hari itu di kos an adikku aku berkenalan dengan teman-temannya. Di lantai 3 ada 3 orang cowok, di lantai 2 juga ada 3 cowok. Jadi selama 5 hari itu aku tinggal bersama 6 orang cowok di kos an adikku. Keesokan harinya aku diantar adikku mengambil hasil CT Scan dan lab. Dan inilah hasilnya : 

Pemeriksaan Hematologi Gol. Darah A Rhesus (+)

Kimia klinik : 
Ureum 18.5 mg/ dL (15.0 – 38.5) 
Kreatinin 0.8 mg/dL (0.8-1.3) 

Pemeriksaan Patologi Anatomi 
Makroskopik :
Diterima sediaan hapus FNA 4 slide 

Mikroskopik : 
Sediaan dari FNA transthoracal, berupa 4 slide preparat hapus: 
Sebaran difus eritrosit, sebaran moderat lekosit pmn 
Didapatkan kelompok-kelompok jaringan nekrotik 
Bersebukan sel radang limfosit dan lekosit pmn 
Tak didapatkan sel ganas pada sediaan ini 

Kesimpulan FNA Transthoracal : Radang non spesifik 

Pemeriksaan mikrobiologi, pengecatan Ziehl Nielsen Sample FNA BTA (-) negative 

Pemeriksaan CT scan Thorax dengan kontras multiplanar :
Mediastinum cenderung tertarik ke kiri 
Jantung dan pembuluh darah besar 
Atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan normal, ventrikel kiri tak membesar 
Septum interventrikel tak menebal 
Myocard tak menebal 
Setinggi trunkus pulmonal 
kaliber aorta ascenden, aorta descenden, trunkus pulmonal dan vena cava superior normal, 
descenden ascenden ratio normal 
Tak tampak pembesaran KGB 
Tak tampak efusi pericard 
Tak tampak massa mediastinal 
Kedudukan trachea normal, lumen tak tampak menyempit, tak tampak penebalan dinding 

Paru: 
Tampak volume loss paru kiri dengan infiltrate pada apeks dan basal paru disertai kalsifikasi 
Tampak infiltrate prominent apeks paru kanan serta infiltrate tersebar 
Bronkus utama kanan kiri tak menyempit, tampak pelebaran focal cabang-cabang bronkus kanan kiri 
Tak tampak massa paru 
Pleura basal kiri tampak menebal dengan collecting fluid 
Tak tampak destruksi tulang 

Kesan : 
Cenderung KP lama dengan infeksi sekunder disertai bronchiectasis dan pleuritis basal hemithorax kiri. 

   Selasa berikutnya 2 Juli, 2014 kami kembali mengantri dokter dari jam 8 pagi sampai 5 sore, untuk mendapat jawaban dokter. Kata dokter bapakku memang pernah kena flek paru tapi itu sudah sembuh, hanya saja bekas fleknya menimbulkan kerusakan paru yang sulit disembuhkan. 

   Dokter memberi bapakku obat hisap namanya Seretide DIskus Salmetrol xinafoate fluticasone propionate . Alat ini berisi tepung (serbuk warna putih) cara memakainya ditempelkan di mulut dan hisap/ tarik nafas tahan selama 5 detik dan hembuskan pelan-pelan. Rasanya manis dan 1 wadah berisi 60 obat. Sekali dibuka nomernya akan berkurang 1. Sehari 2x pagi dan sore. Harga obat ini Rp. 184.999,- 

   Selain itu bapak juga diberi kapsul berisi aminophyllin 200 mg dan salbutamol 4 mg yang terdapat dalam 1 kapsul. Hanya untuk 20 hari saja. Harus diminum rutin.

   Kebayang aku harus bolak balik Blora - Semarang selama 6 bulan untuk obat ini jika di blora tak ada obat ini. Memperhatikan jadwal minum obat bapakku memang sangat menantang buatku. Tak hanya itu saja, aku juga harus mengatur waktu dan mengurus surat tepat waktu agar tidak blong obatnya. Hmm… benar-benar butuh perhatian ekstra...

Perjalanan Berobat ke Semarang

Moocen Susan | Kamis, Juli 03, 2014 | Be the first to comment!
   Setelah semua surat-surat untuk keperluan berobat keluar kota kulengkapi, aku dan bapak berangkat ke Semarang pada Selasa minggu lalu. Kali ini kami tidak diantar paman lagi melainkan naik travel. Saat akan berangkat hatiku bergejolak rasanya capek tak ingin pergi keluar kota lagi tapi aku harus kuat demi bapakku. Di saat seperti itu Tuhan pun tahu, Dia menghibur hatiku. Surprised banget karena diluar dugaanku travel yang kutumpangi beda banget, bagus bak mobil pribadi. Hanya ada 5 orang penumpang disana. Dan yang membuatku semangat pergi karena ternyata sopirnya ganteng banget. Sungguh berbeda saat aku ke Solo minggu lalunya lagi, yang mana aku tepar dan muntah terus di mobil. 

   Meski terjadi kemacetan di dua titik dan mengakibatkan perjalanan Blora-Semarang yang seharusnya hanya 3-4 jam jadi 7 jam tapi aku sangat menikmatinya. Rupanya ini penghiburan dari Tuhan. Hati yang gembira bukan hanya menjadi obat yang manjur tetapi juga jadi anti mabok darat. 

   Kami berangkat jam 1 siang dan sampai Semarang jam 8 malam menuju kos an adikku. Kami tinggal di lantai 3 kamar teman adikku. Setelah melepas lelah, adikku mengajakku membeli makan di cafĂ© langganannya. Disana aku bertemu dengan 3 orang teman adikku dan kami berkenalan. Aku tak makan disana karena ada bapak yang menunggu di kos. Jadi aku bungkus makanan itu agar bisa makan bersama bapakku. Setelah kenyang, kami pun beristirahat. 

   Keesokan harinya pagi-pagi kami harus ke rumah sakit untuk mendaftarkan bapak ke instalasi rawat jalan. Setelah surat-surat seperti fotokopi rujukan (dokter keluarga/puskesmas, RSU setempat, dan fotokopi kartu BPJS) kuserahkan ke petugasnya, aku mengambil nomor antrian dan mendaftar ke dokter spesialis. Menurut info dari rumah sakit, dokter hanya membatasi 3 orang saja yang bisa berobat gratis. 

   Sampai di rumah sakit jam 8 pagi hari itu sangat sepi. Sepertinya Tuhan memperlancar semuanya. Aku mendapatkan nomor urutan 1 yang mendapat gretongan berobat. Sedangkan periksa dokternya jam 5 sore. Karena jarak kos adikku ke rumah sakit cukup jauh, jadi kami memutuskan untuk menunggu dokternya di rumah sakit. Bisa dibayangkan dari jam 8 pagi sampai jam 5 nongkrong di rumah sakit. Demi pengiritan ongkos transport karena naik taxi kena Rp.21.000 sekali jalan. Untungnya waktu itu kami diantar adikku dan temannya naik brompit. Antri dokter ini harus ontime kalau ga bisa disuruh mundur 3 nomer, kan eman? 

   Demi tidak disuruh mundur, aku menahan kencing dan lapar. Waktu terasa lama sekali, dokter baru datang pada pukul 17.30. Setelah itu kami masuk dan dokter memeriksa bapakku. Malam itu juga dokter langsung suruh bapak opname untuk keperluan diagnosa cepat yang tidak bisa ditunda lagi. Rasa laparku tiba-tiba hilang ganti lemas, pusing, dan mual. Aku harus segera mengambil obat dan infus ke apotik dan mengurus pesan kamar. Antri obat juga lama, kepalaku makin pusing. 

   Setelah menunggu beberapa saat, obat dan infuse di tanganku dan kami memutuskan untuk makan malam dulu sebelum pesan kamar. Bapakku sering bingung menentukan menu makan kalau sudah masuk ke warung. Dia memperhatikan tulisan menu di layar penutup warung itu mau makan apa? 

   Kami sempat mendesak bapak untuk segera pesan makanan karena sudah lapar. Saat kami beradu pendapat, rupanya ada sepasang suami istri yang juga makan disana yang memperhatikan kami. Selesai makan, kami berbicang sebentar dan saat mereka hendak pulang, sang suami membayar semua makanan kami. Oh puji Tuhan, padahal kami tak kenal satu sama lain. Entah apa yang membuatnya menraktir kami waktu itu. 


   Usai makan, aku dan adikku menuju ke bagian administrasi untuk memesan kamar. Kelas 3 semalam bayar Rp. 132.000, biaya dokter Rp.72.000, kalau ruang isolasi kena 303.000 semalam. Aku sempat cemas dan takut kalau bapakku dimasukkan ke ruang isolasi karena penyakitnya bagian paru-paru dan pernah berobat TB. Tuhan kembali memperhatikan kami. Aku mendengar perbincangan pasien yang sulit mendapat kamar, membuatku makin takut. 

   Petugas administrasi meminta surat-surat rujukan, KTP asli dan kartu BPJS bapak. Dalam hati aku terus berdoa, supaya dapat kamar kelas 3. Kulihat petugasnya sangat sibuk di dalam memeriksa berkas-berkas pasien. Beberapa saat kemudian, salah satu petugasnya memberitahukan bahwa bapakku mendapat kamar kelas 3. Oh puji Tuhan, aku senang sekali. 

   Segera kuhampiri bapakku dan ada petugas yang membawa kursi roda untuk mengantar bapak ke kamarnya.meski kamar itu kelas 3 tapi sangat bersih dan bagus, bapakku mengira itu kelas 1. Rumah sakit ini memang sangat terkenal karena kebersihannya. Di kamar itu ada 6 bed, 1 TV LCD dan kamar mandi. Aku berulangkali dipanggil untuk tanda tangan berkas-berkas keperluan rawat inap. Pasang infuse juga dimintai tanda tangan, setelah mendengarkan informasi dari perawat aku juga harus tanda tangan. Adikku kembali ke kosnya dan membawakan kami baju-baju untuk tinggal di rumah sakit 2 hari. Dokter yang memeriksa kami akan tiba besok pagi untuk memeriksa bapakku. CT Scan dijadwalkan hari Kamis pagi.

SKS (Sistem Kebut Semalam)

Moocen Susan | Kamis, Juli 03, 2014 | 4 Comments so far
   Setiap aku berhasil menjadi juara kelas entah itu juara satu, dua, atau tiga, biasanya orangtuaku menraktirku makan rawon di restoran sebagai hadiah atas keberhasilanku. Bagi orang lain, mungkin hadiah itu terlalu sederhana, tetapi bagiku bisa makan rawon di restoran karena berhasil menjadi juara kelas itu adalah hal yang luar biasa. Maklum, keluarga kami hidup pas-pasan jadi hanya pada momen tertentu saja kami bisa makan di luar. 

    Sejak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak sampai Sekolah Dasar pun, aku jarang membawa uang saku dari rumah. Bukan karena ibuku tidak pernah memberiku uang saku, melainkan karena bagiku jika sudah cukup kenyang makan dirumah maka tidak perlu membeli jajan di luar lagi. Sebetulnya, Ibu pernah memberiku uang saku namun kukembalikan lagi sewaktu pulang sekolah karena perutku masih kenyang. 

   Setiap pulang sekolah, ibu selalu memeriksa buku pelajaranku. Beliau selalu mengingatkanku untuk segera mengerjakan PR setiap mendapat tugas dari sekolah dan tidak boleh menunda-nunda dalam mengerjakannya agar tidak lupa. 

   Kebiasaan ini diterapkan oleh kedua orangtuaku sejak aku masih kecil. Karena sudah dibiasakan demikian, setiap ada tugas, otomatis aku kerjakan tanpa menunggu komando. Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Setiap mendapat tugas, aku selalu menyelesaikannya tepat waktu. 

    Ketika akan ada ulangan di sekolah, aku menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Hehe…, kalau yang ini jangan dicontoh ya. Tetapi meski demikian untungnya nilai ulanganku lumayan juga. 

   Selama bersekolah di Sekolah Dasar hingga SMP kelas 1 memang aku tidak pernah menyontek karena kata guruku, menyontek itu sama artinya dengan mematikan pikiran kita. Tak pernah terbesit di benakku untuk menyontek. Tetapi entah mengapa, ketika aku duduk di bangku SMP kelas 2 mulai ada rasa penasaran ingin ikut-ikutan teman menyontek. 

   Waktu itu akan dilaksanakan ujian caturwulan pertama di kelas 2 SMP. Aku juga menerapkan SKS tetapi bukan SKS untuk belajar, melainkan SKS menulis contekan di kertas. Maklum baru pertama kali menyontek dan kurang berpengalaman jadi kutulis saja contekanku itu di buku kosong. Padahal pada umumnya, kalau membuat kertas contekan biasanya di kertas kecil-kecil. 

   Hari pertama ujian, aku berhasil menyontek dan tidak ketahuan guru pengawas. Oleh karena itu keesokan harinya aku mencoba menyontek lagi. Namun, ketika aku hendak mengerjakan soal nomor 1, aku sudah mulai membuka contekan, padahal sebenarnya tanpa menyontek pun aku bisa mengerjakannya. 

   Sebelum membuka buku contekan, aku memperhatikan sekelilingku. Kulihat guru pengawasnya tidak terlalu memperhatikan murid-murid yang lain. Seketika itu juga aku mulai beraksi, kuambil buku contekan yang kusembunyikan di laci meja. 

   “Srek….” 

   Ketika mendengar suara lembaran buku contekan yang kubuka, guru pengawas itu mengalihkan perhatiannya dan memandang ke arahku. “Wah, gawat ketahuan nih!” gumamku penuh ketakutan. 

   Guru pengawas itu dengan tenang menghampiriku dan mengambil buku contekan beserta kertas ujianku. Ia mencatat nomor urut ujianku. Ketika semua mata memandang ke arahku, perasaanku mulai diliputi ketakutan yang amat sangat. 

    Hanya rasa sesal bercampur malu yang tersisa saat itu. Yang lebih mengecewakan lagi saat itu ujian agama. Entah mengapa ujian agama bisa-bisanya aku menyontek dan ketahuan. Jumlah soal ujian agama itu ada 40 soal, tapi akhirnya tidak bisa kukerjakan semua karena baru nomor 1 sudah ketahuan guru pengawas kalau aku menyontek. 

    Perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Tubuhku melemas dan pikiranku kacau. Aku sangat ketakutan jika aku akan dihukum. Hari itu bertepatan dengan pergantian kepala sekolah yang baru. Aku takut dipanggil ke kantor kepala sekolah gara-gara menyontek. Hingga aku berpikir yang tidak-tidak secara berlebihan, misalnya dikeluarkan dari sekolah. 

   *** 

   Keesokan harinya aku tidak berani menyontek lagi. Apa yang kutakutkan juga tidak terjadi. Hingga selesai hari terakhir ujian caturwulan pertama, aku kembali belajar seperti biasa. 

   Hanya saja ketika ada pelajaran agama, aku sangat takut ketika bertemu dengan guru agama di sekolahku. Beliau memang tidak terang-terangan menegurku atas ulahku kemarin. Namun, aku tahu bahwa beliau sedang menyindirku dan aku menerima semua itu karena memang aku yang bersalah. 

   Memang berbeda rasanya jika mengerjakan soal ujian antara belajar atau dengan menyontek. Ada kepuasan tersendiri ketika aku mengerjakan soal ujian dengan belajar, meskipun nilai yang kudapat kurang bagus. Namun, jika menyontek meski hasilnya bagus, yang ada hanya rasa tidak puas dan takut apalagi jika ketahuan seperti pengalamanku waktu itu. 

    Sejak peristiwa itu hingga aku lulus SMU, aku tak pernah lagi menyontek maupun berpikir untuk melakukannya lagi. Aku lebih merasa bersalah kepada diri sendiri dan terutama kepada Tuhan karena tidak menggunakan akal pikiranku untuk berpikir sebelum bertindak. Aku benar-benar menyesal atas apa yang telah kulakukan waktu itu. 

Masyarakat Peduli TB

Moocen Susan | Sabtu, Juni 21, 2014 | 10 Comments so far
  
Saat seseorang mengetahui bahwa dirinya terdiagnosa kena TB prosentase kekhawatirannya sebesar 50 % dan ada juga yang berpikir untuk bunuh diri sebesar 9 %. Ketakutan ini disebabkan karena bayangan mereka akan TB yang merupakan penyakit pembunuh nomer 1 di antara penyakit menular dan berada di urutan ketiga dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004). Dimana sebagian besar penyakit ini menyerang kelompok usia produktif dan masyarakat ekonomi lemah. Bahkan TB menjadi penyebab tersering kematian pada ODHA. 

   Kemiskinan, lingkungan yang kumuh, padat dan terbatasnya akses untuk perilaku hidup bersih dan sehat berkaitan erat dengan TB. Disamping itu wanita hamil dan anak anak juga sangat rentan terkena TB. 

   Bicara soal TB memang tidak bisa diabaikan begitu saja. Mengingat TB adalah penyakit kronik yang salah satu kunci keberhasilan pengobatan adalah kepatuhan dari penderitanya sendiri (adherence) maka  ketika penderita sudah tahu penyebabnya dan solusi untuk mengobati serta kepatuhannya dalam meminum obat TB hingga tuntas sehingga dia menjadi sembuh. 

   Repotnya kalau penderita tidak patuh dalam meminum obatnya sehingga menjadi resisten/ kebal obat. Nah kalau sudah resisten istilahnya MDR TB, pengobatan bisa mencapai 2 tahun, efek samping jadi lebih berat, jumlah obat yang diminum juga lebih banyak dan biayanya juga semakin mahal. Belum lagi kalau menyerang organ tubuh lainnya/ komplikasi wah betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan?

   Tak hanya itu saja, selain pasien TB mengalami dampak fisik berupa keterbatasan dalam melakukan kegiatan fisik secara normal mereka juga mengalami dampak sosial dan mental yaitu dikucilkan di masyarakat. 

   Beban TB khususnya di Indonesia masih sangat tinggi dimana setiap tahunnya masih ada 460.000 kasus baru dan sekitar 186 orang per hari meninggal dunia akibat .Sebanyak 1/3 kasus TB masih belum terakses atau dilaporkan. Bahkan sebagian besar kasus TB terlambat ditemukan sehingga saat diagnosa ditegakkan mereka sudah dalam tahap lanjut bahkan kuman telah resistan obat sehingga suit untuk diobati. 

   Mengingat bapakku sendiri adalah penderita TB yang sudah resisten terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) akibat ketidakpatuhannya dalam meminum obat TB yang berjangka 6-9 bulan itu, sempat membuatku berpikir juga bagaimana dengan nasib penderita TB yang lain yang tidak/ belum terjangkau oleh pelayanan medis?

    Seperti yang sudah saya tulis di artikel saya serial 1 disini, mereka yang tidak terjangkau ini diantaranya yaitu : 

  • Pengidap TB yang tidak mendapat akses kesehatan sama sekali misalnya karena : 
  • Kemiskinan → karena miskin, tidak punya uang untuk berobat sehingga menyebabkan penderita enggan berobat.
  • Terdiskriminasi → TB itu kan penyakit menular. Karena penularannya melalui udara misalnya ketika penderita sedang berbicara atau meludah, dari batuk, bersin, dahak penderitanya maka kita bisa dengan mudah tertular yaitu ketika kuman yang terpecik tadi kita hirup. Oleh sebab itu penderita TB biasanya cenderung dijauhi orang lain karena takut ketularan tadi, akibatnya penderita akan merasa terdiskriminasi.
  • Tingkat kewaspadaan dan pengetahuan mengenai penyakit TBC yang rendah sehingga tidak tahu kapan dan mengapa harus mencari bantuan tenaga kesehatan→ nah disini diperlukan peran dari LSM (lembaga swadaya masyarakat untuk mengedukasi masyarakat tentang TB. 
  • Terbatasnya layanan kesehatan dan pendistribusian yang tidak merata, kesulitan ekonomi: biaya pengobatan, biaya transportasi dan hilangnya pendapatan, konflik dan rasa kecurigaan. 
  •  Pengidap TBC yang tidak terdiagnosa karena tidak dilakukannya pemeriksaan penunjang diagnosa TBC. Hal ini disebabkan karena gagalnya mengidentifikasi gejala dan tanda penyakit TB, tidak akuratnya alat diagnostik penyakit TBC, dan sulitnya akses ke pemeriksaan penunjang. 
  • Pengidap TBC tidak tercatat apakah sudah diobati atau belum meski sudah terdiagnosa . Hal ini disebabkan karena tidak adanya kerjasama dokter pribadi, laborat, rumah sakit, dan layanan kesehatan publik atau pemerintah atau lembaga non pemerintah , lemahnya sistem pencatatan/ pelaporan. Tidak adanya suatu kewajiban untuk pelaporan kasus penyakit TBC oleh para penyelenggara layanan kesehatan. 

   WHO memang telah mengupayakan strategi DOTS yaitu pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) sebagai langkah komprehensif dalam menanggulangi TB. 
    Dimana tujuan utama strategi DOTS yang memiliki 5 komponen utama : dukungan pemerintah, obat, mikroskop, pengawas dan laporan ini yaitu menyembuhkan 85% dan mendeteksi 70% orang-orang yang terinfeksi TB. 
   Strategi ini tidak cukup bila hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Peran LSM sangatlah signifikan dalam menyukseskan DOTS. LSM dapat menyediakan pelayanan terkait dengan TB melalui klinik atau rumah sakit. Di sini, LSM akan berperan sebagai pelayanan baris kedua (second line treatment) untuk para penderita TB. 
   LSM bisa berperan sebagai pendidik masyarakat dalam perawatan TB. Hal ini diperlukan karena banyak dari masyarakat yang tidak mengerti tentang bagaimana gejala TB, perawatan dan cara pengobatannya. LSM juga dapat mendorong perawatan berbasis komunitas (community based care). Melalui perawatan ini, LSM mendorong komunitas untuk lebih peka terhadap penderita TB dengan program-program yang dibuat oleh komunitas tersebut. 
   Selain itu, LSM juga dapat membuat sebuah riset yang berguna untuk perkembangan dalam penanggulangan TB Selain itu, komitmen seluruh komponen masyarakat juga diperlukan dalam pengendalian TB di negara kita ini demi terwujudnya Indonesia bebas TB. Oleh sebab itu dibentuklah sebuah wadah kemitraan untuk mendukung program tersebut yang diberi nama Stop TB partnership Forum Indonesia. Kepatuhan penderita TB juga berperan penting demi kesembuhan dirinya sendiri. 
   Indonesia telah menginisiasi beberapa model inovatif untk keterlibatan pasien dalam pengobatan dan pengendalian TB. Rencana Aksi Nasional tentang keterlibatan masyarakat dan pasien TB telah disusun pada 2010. Sebuah perkumpulan Nasional pasien TB didirikan pada 2008 yaitu PAMALI TB dan piagam hak dan kewajiban pasien TB telah disusun dengan mengadopsi “Patient Charter” yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. 
   Lalu, bagaimana dengan peran serta kita sebagai warga masyarakat dalam upaya pengendalian TB ? Langkah sederhana yang perlu kita lakukan diantaranya : 
  1. Tidak mendiskriminasi/ mengucilkan penderita TB agar mereka tidak takut dan cemas karena tidak bisa diterima di masyarakat. 
  2. Mendorong tetangga yang terdeteksi terjangkit TB serta anggota keluarganya untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala TB diantaranya batuk lebih dari 2 minggu, demam dan keringat dingin di malam hari, nafsu makan berkurang sehingga berat badan menurun. 
  3. Memberikan informasi kepada tetangga tentang TB dan pengobatannya serta tentang pentingnya mengenakan masker bagi pasien TB agar tidak menularkan kuman bagi orang disekitarnya. 
  4. Mengingatkan tentang bahaya merokok kepada teman/ kenalan/ tetangga/ kerabat yang bisa mengakibatkan TB. 
  5. Mendeteksi secara dini TB pada anak-anak dengan gizi buruk, yang hidup dengan HIV, tinggal di tempat tinggal kumuh dan kurang ventilasi udara yang baik.
  6. Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan perumahan di masyarakat.
sumber referensi:
- http://www.tbindonesia.or.id/
- www.kpmak-ugm.org
- www.tanyadok.com 

Berbagi Tugas

Moocen Susan | Jumat, Juni 20, 2014 | 3 Comments so far
   Akhir-akhir ini aku capek banget bolak balik keluar kota, ngurus surat ini itu untuk prosedur pengobatan bapakku. Kerjaanku jadi terbengkalai, aku sering batalin les dan rasanya mulai malas ngapa-ngapain. Mau ikutan lomba blog juga ogah-ogahan, apalagi kalau syaratnya berat. Perhatianku sepenuhnya kepada bapakku. Memperhatikan perkembangannya, makannya, minum obatnya, mengatur jadwal ketemu dokternya. 

    Aku sangat terbantu dengan keberadaan adikku di Semarang, jadi kami bisa saling bagi tugas. Meski aku sering tepar di mobil ketika mengantar bapakku, tapi rasanya puas bisa mengantar ortu sendiri. Beberapa waktu yang lalu sempat bergumul mau berobat kemana dan puji Tuhannya, step by step Tuhan pimpin langkahku. 

   Kartu BPJS sudah kuurus, rujukan sudah siap semua dan rencana akan berangkat keluar kota lagi besok Selasa. Aku sungguh tidak menyangka, kalau aku bisa melakukan semuanya ini. Aku sungguh hanya memikirkan bapakku, tak ada yang lain. Aku mengabaikan kelemahan dan ketakutanku demi kesehatan beliau. 

   Tadi pagi aku begitu marah, karena bapakku eman-eman makan buah sirsat yang sudah jamuran. Kadang beliau susah sekali dinasehati. Mungkin kekuatiranku terlalu berlebihan, tapi itu semua karena aku sangat sayang bapakku. Mungkin maksud bapakku irit makanan, tapi kadang beliau suka simpan makanan terlalu lama dan aku paling cerewet kalau ada makanan ga segera dimakan. 

   Efisiensi dan efektivitas waktu sangat kuperhitungkan ketika hendak melakukan segala sesuatu termasuk keberangkatan kami ke Semarang. Aku dan adikku saling bertukar informasi dan terus SMS/ telepon. Aku mencari informasi tentang prosedur ini itu dan melibatkan banyak orang karena aku tidak mau salah langkah. Aku ingin memastikan bahwa jalan yang kutempuh ini sudah benar, sehingga tidak ada lagi kesalahan. Aku memang cenderung perfeksionis. Adikku kuminta untuk datang langsung ke rumah sakitnya untuk menanyakan mekanisme dan syarat-syarat yang harus dilengkapi dan kabarnya dokter hanya membatasi 3 orang yang bisa mendapat kesempatan berobat dengan BPJS. Wah, semoga masih keburu daftar hari itu.
   
   Berulangkali browsing website, cari dokter, cari prosedur yang benar, baca artikel tentang obat-obatan yang diminum, memperhatikan setiap perkembangan bapakku dan aku jadi kurang tidur karena bapakku makannya tidak umumnya orang makan. Sehingga minum obatnya jadi mundur-mundur. Duh kadang gemes juga. Sampai pada titik puncak keletihanku. Aku benar-benar berserah pada Tuhan. Mengalir dan jalani saja apa yang di depanku. Harapan kami berdua cuma 1 yaitu kesembuhan bapak.

Pengalamanku Mengurus BPJS untuk rawat jalan & inap di luar kota

Moocen Susan | Kamis, Juni 19, 2014 | 23 Comments so far
   Hari ini aku ke kantor BPJS untuk mendaftar sebagai peserta BPJS (non-PBI : bukan-Penerima Bantuan Iuran-red). Setelah kemarin sempat maju mundur untuk bikin BPJS. Yah, beginilah kalau kurang informasi :( 

   Untuk mendaftar 1 formulir untuk sekeluarga minimal yang didaftarkan harus 2 orang. Jika akan menambahkan anggota keluarga lagi, pakai formulir baru lagi dilengkapi dengan fotokopi berkas seperti diatas. Tapi kemarin waktu datang ke kantornya untuk kedua kalinya daftar 1 orang juga boleh. Alurnya sebagai berikut : 
  1. Mengisi formulir pendaftaran dilengkapi dengan fotokopi KK, KTP, dan pas foto berwarna 3x4 = 1 lembar. 
  2. Setelah itu serahkan pada petugasnya → dapat catatan nomor rekening BPJS untuk kita transfer biaya ke Bank. Iuran wajib dibayarkan sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Lewat tanggal itu bisa kena denda. Untuk kelas 1: Rp. 59.500, kelas 2: Rp.42.500, kelas 3: Rp.25.500,- 
  3. Sampai di bank kita dapat slip bukti setoran → kembali lagi ke kantor BPJS menyerahkan bukti setoran tadi 
  4. Kita mendapat kartu BPJS dari kantor. 
Untuk prosedur rawat jalan ke rumah sakit luar kota: 

  1. Setelah kita mendapat kartu BPJS datanglah ke dokter keluarga Anda/ kalau aku ke puskesmas. 
  2. Daftar ke loket pendaftaran di puskesmas dan serahkan kartu BPJS dan kartu berobat 
  3. Setelah dipanggil masuk ke ruang dokter, minta rujukan ke rumah sakit setempat 
  4. Dari ruang dokter, kembali ke loket pendaftaran menyerahkan surat dari dokter tadi 
  5. Masuk ke ruang sekretariatnya untuk mendapat rujukan puskesmasnya. 
  6. Surat rujukan dari puskesmas dibawa ke rumah sakit umum
  7. Ambil nomer antrian
  8. Jika sudah dipanggil, serahkan kartu BPJS asli + fotokopinya, surat rujukan puskesmas asli, kartu berobat RS
  9.  Masuk ke ruang dokter dan minta surat rujukan dari rumah sakit ke rs yang dituju
  10. Ke bagian informasi untuk mendapat nomer surat rujukan.
  11. Pergi ke kantor BPJS lagi untuk mendapat stempel.
untuk prosedur rawat inapnya:
cukup bawa surat rujukan dokter keluarga, rujukan rumah sakit setempat (yang sudah di stempel di kantor BPJS ) dan fotokopi kartu BPJS.