Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • JUAL SUPERGREENFOOD

Pengalaman ke IGD

Moocen Susan | Kamis, Maret 03, 2016 | 22 Comments so far
   Sudah hampir 6 bulan ini tiap pagi kira-kira jam 4-8 pagi muntah asam lambung bercampur bercak darah kecoklatan kadang juga hitam. BABku agak encer tapi tidak terlalu encer. Pola makanku kacau, sedikit dan terbatas di menu tertentu. Kadang bisa sejam lapar atau maksimal 2 jam harus diisi makanan lagi. Entah mungkin kemarin lagi ga kebeneran aja, pisang yang biasanya aku makan dengan lahap kali ini berasa agak pait sampai lidahku terasa kebas. 

    Perutku mulai mual dan kepalaku pusing, rasa tidak nyaman itu membuatku muntah hingga berjam-jam. Dan bercak darah kembali muncul. Aku mulai panic dan tidak kuat karena muntahku tak kunjung berhenti. Ada rasa terbakar di kerongkonganku. 

   Aku meminta adikku mengantar ke IGD terdekat. Sepanjang perjalanan aku muntah di atas motor. Aku sudah lemas. Sampai di IGD disuruh berbaring aja sama perawatnya. Diperiksa dokter jaga dan menunggu adiku mengurus pendaftaran. Aku terus muntah. Ternyata adiku mendaftar di poli penyakit dalam. Aku turun dari ranjang IGD dan periksa ke dokter. Aku duduk masih dalam keadaan muntah. Dapat antrian nomor 13 pula. Aku sempoyongan masuk ke dalam ruang dokter. Dokternya udah kayak nenek-nenek ketika mengetahui aku muntah dia kayak jijik gitu. 

   Dia tidak memeriksaku sama sekali cuma bilang, loh kok muntah? Jangan muntah disini. Adiku langsung bilang, dia bawa tas kresek kok dok. Wah ya harus mondok kalau gitu, tapi suster bilang kamar sudah penuh jadi harus dirujuk ke rumah sakit lain. Dokter itu membuat surat pengantar dan memberikannya kepada kami sambil kayak orang ngusir gitu. Udah ini ini… tunggu diluar. 

    Adiku menghubungi temannya untuk bawa motor karena kami akan naik taksi. Di pinggir jalan aku nunggu teman adiku datang, aku masih muntah. Aku pegangan tembok rumah orang karena lemas. Setelah kira kira 20 menit teman adiku baru datang. Udah gitu masih nunggu cari taksi lagi. Plus hp adiku baterenya lowbat. Dia cari pinjaman telepon di kantor rumah sakit. 


   Setelah menunggu beberapa saat taksi datang. Aku masih muntah. Sampai di IGD rumah sakit kedua, aku tiduran aja menunggu adiku mengurus administrasi dengan BPJS. Tak ada yang memeriksaku ataupun menghampiriku. Aku terus muntah. Dan tak terasa ternyata aku datang bulan tapi lupa tak bawa pembalut. Waduh kebayang betapa ga nyamannya antara muntah dan mens tanpa pembalut. 

   Aku memanggil salah seorang suster dan meminta pembalut tapi dengan ketus suster itu bilang tidak ada. Dan dia ngacir pergi. Aku menunggu kira kira 1 jam, adiku datang dan bilang kalau kamar udah penuh jadi aku pindah ke rumah sakit ketiga. Di rumah sakit ketiga aku diperiksa dokter jaga dengan cermat. Ada 2 dokter yang memeriksaku. Aku ditensi, disuntik dan direkam jantungku. Muntahku masih belum berhenti juga. 

   Dokter memberiku lanzoprazole tapi kumuntahkan lagi. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 WIB tapi aku masih belum berhenti muntah. Hingga aku mulai mengantuk sehabis disuntik namun masih terasa mual. 

   Dalam keadaan setengah sadar, aku kaget seperti ada dokter menghampiriku. Aku hanya merasa nyaman saja. Kulihat dokter itu bersama seorang dibelakangnya menggunakan jubah warna putih tapi bukan jubah dokter. Aku melihatnya samar-samar tapi tak terlihat wajahnya. Dokter itu tidak bilang apa apa. Dan aku mulai memperhatikan dengan seksama keluar tirai lho dokter yang memeriksa aku kok duduk di tempatnya lha yang kesini tadi siapa? Aku tertidur kembali sebentar dan terbangun dalam keadaan lebih baik. Muntahku berhenti dan aku mulai makan. 

   Aku masih bertanya tanya siapa dokter dan seorang berjubah yang tak kelihatan wajahnya itu. mungkinkah IA TUHAN YESUS? Tuhan menjengukku di IGD memberiku kekuatan dan aku berhenti muntah. Setelah makan pisang yang kubawa dari rumah aku minum obatku. Pisang yang kubawa untungnya tidak pait seperti tadi siang. Kemudian Adikku datang dan membawakan bubur nasi bersama telur rebus yang direbus oleh teman adikku yang kos di dekat rumah sakit. Aku makan dengan lahap dan kondisiku mulai membaik. 

   Adiku mengajakku pulang malam itu juga karena aku tidak perlu diopname. Tensiku baik, jantungku normal yang tak beres hanya pencernaan saja. Aku diberi obat ulsafat sucralfate untuk melapisi dinding lambung, scopma untuk nyeri perut, ondansetron untuk mual/ muntah, dan lanzoprazole untuk menekan produksi asam lambungku.

    Pulang kerumah aku kuat bonceng motor seperti ada yang menopang punggungku sepanjang perjalanan. Aku pulang kerumah pk.00.00 WIB. Aku pun bisa tidur setelah serangkaian perjuangan muntahku meski esok paginya masih muntah asam lambung yang tak terhindarkan. Terima kasih Tuhan Yesus Kau sudah menguatkanku dan mengunjungiku di IGD.

5 Item Favorit Yang Ingin Kubeli di Lazada

Moocen Susan | Kamis, Januari 28, 2016 | 14 Comments so far

   Pertama kali aku belanja online ya itu setahun yang lalu dan pilihan tempat belanja onlineku jatuh kepada Lazada. Lazada adalah tujuan belanja online nomor satu di Asia Tenggara. Dan aku sangat puas dengan pelayanan Lazada. 

   Waktu itu aku beli smartphone Samsung Galaxy Grand Neo pas lagi pesta diskon harbolnas. Baru pesen aja nih, udah dapat sms notifikasi berisi pemberitahuan pesananku. Dan yang paling aku suka lagi adalah barang dikirim cepet banget nyampe ke rumah dan barangnya juga bagus. Oleh karena itu aku ketagihan belanja di lazada lho ya karena terpercaya, cepat dan aman. 

   Baru-baru ini aku order lagi di lazada, yaitu panci stainless. Ini ada bukti sms notifikasinya… 


   Nah, beberapa hari kemudian aku dapat email dari salah satu pembaca blogku yang ngasih tau kalau ada kompetisi blogger yang diadakan oleh Shopcoupons tentang 5 item favorit yang ingin kubeli di Lazada Indonesia yang hadiahnya adalah voucher Lazada senilai Rp. 325.000,- yang dapat digunakan TANPA MINIMUM BELANJA. Asyik gak tuh… lumayan kan ? 

   Makanya begitu tau info ini aku langsung meluncur cari-cari barang yang pengen banget aku beli yang tentunya sangat kubutuhkan. Salah satu Resolusi 2016-ku adalah aku ingin hidup lebih sehat dengan pemilihan menu dan cara memasak yang lebih higienis. 

   Oleh karena itu jangan heran ya kalau daftar barang yang pengen kubeli semua tentang peralatan dapur, antara lain sebagai berikut :

1. Cosmos CRJ 323 TS Penanak Nasi 1.8 L Putih 

   Sebenernya, aku udah lama banget pengen beli magic com, kebetulan magic comku yang lama sudah hampir rusak, terutama potnya yang sudah mengelupas wedew itu kan bahaya banget ya. 
   
    Makanya aku nyari magic com yang bagus dan sering dipesan konsumen dan pilihanku jatuh ke cosmos CRJ 323 ini dengan kapasitas 1.8 L dengan daya 400 watt memiliki fungsi 3 in 1 untuk memasak nasi, mengukus dan menghangatkan nasi. 

   Bahan stainless anti lengketnya dipastikan membuat cosmos tipe ini tahan lama dan awet dengan desain minimalis. 

2. Luminarc Amberline Vitro Blooming 1 L 


    Nah kenapa aku pengen beli ini? Jadi ceritanya aku nih lagi proses pemulihan sakit, pengen bikin rebusan daun cincau dan jamu-jamu lainnya kan biasanya tuh ngrebusnya ga boleh pake sembarang alat ya, kalau ga dari tembikar/ kuali tanah liat ya dari panci berbahan kaca. 

   Bahannya alami, mudah dibersihkan dan aman untuk dishwasher. Kualitasnya bagus, made in Perancis dan tahan di atas kompor gas/ microwave. Produk ini menjamin ketahanan luar biasa terhadap suhu, mekanical & kimia. 

3. Oxone Noodle Machine Mesin mie/ spaghetti 


    Nah, kalau yang ini berhubung aku tuh penggemar mie sedangkan kalau beli diluar tuh kadang ga cocok di perutku yang super sensitive ini, jadi lebih amannya bikin mie sendiri di rumah. 

   Selain sehat, tanpa pengawet, dan aman karena aku sendiri yang bikin. Aku sempet browsing di youtube cara bikin mie homemade dengan alat ini. Kebetulan eh di Lazada kok ya jual hihi.. 

   Lagi-lagi berbahan stainless steel, bagus kan, mudah dibersihkan dan digunakan serta awet tahan lama serta terbuat dari material yang berkualitas tinggi dengan penggiling yang lembut 

4. Luminarc Pure Box Sqr Dahlia 122 



   Kalau yang ini buat nyimpen makanan. tutupnya sangat kedap udara sehingga dapat menyimpan makanan tetap higenis & awet. Kualitas bahan kaca sangat bagus sehingga aman dalam microwave,dish washer. Desainnya juga bagus. 

   Dipake buat kotak bekal juga bisa kali ya.. hehe.. berhubung aku gampang laper 2 jam sekali, jadi kalau mau pergi agak lama musti bawa bekal. Wadah ini cocok banget dibawa juga. 

5. Sanex MX-T2GN 3 in 1 Blender putih 


    
    Blenderku yang dulu kebakar, hiks.. terus aku beli juicer, tapi akhir-akhir ini jadi pengen beli blender lagi buat bikin smoothie. Nyoba ikutan food combining dengan bikin smoothie jadi butuh banget blender lagi. 

    Pilihanku jatuh ke Sanex MX-T2GN ini jujur karena aku lihat paling banyak ulasannya hehe.. jadi aku pengen beli yang ini aja. Dengan daya 220 watt. Container kaca, dengan pisau stainless steel Sanex MX-T2GN ini dapat berfungsi menghaluskan semua jenis makanan. Dilengkapi dengan tombol pengatur kecepatan, aku dapat dengan mudah mengaktifkan blender tangan ini hanya dengan satu sentuhan dan bisa mengatur tingkat kehalusan bahan makanan sesuai yang ku butuhkan. 

   Yah, itulah kelima item favorit yang ingin kubeli di Lazada. Semoga beruntung ya… 


Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X Lazada Indonesia. Yang diselenggarakan oleh ShopCouponsVoucher Lazada disponsori oleh Lazada Indonesia.

Cara Mengobati Luka Lidah Tergigit

Moocen Susan | Minggu, Januari 10, 2016 | 8 Comments so far
    Beberapa hari lalu aku merasakan nyeri di tepi lidah kiriku. Ga sengaja kegigit mungkin saat tidur. Perih banget, ga enak buat makan. Yang terpikir pertama kali adalah olesin albothyl, tapi berhubung albothyl habis akhirnya aku diemin aja. Eh malah tambah sakit. Karena ga tahan, iseng aku browsing di google cara mengobati luka lidah yang kegigit dan nemulah caranya yaitu dikompres dengan es batu. 

     Puji Tuhan, es batu manjur juga buat ngobatin luka lidah kegigit. Esok paginya aku sudah bisa makan dengan tanpa rasa nyeri di lidah lagi. Selalu ada hikmah dibalik kejadian.

Kisah Sendu Pagiku

Moocen Susan | Senin, Januari 04, 2016 | 23 Comments so far
  
Pagi yang berat. Sudah 5 bulan ini aku kepayahan dan perih di ulu hatiku setiap bangun tidur. muntah asam lambung bercampur bercak darah lagi. Kali ini lebih banyak darah yang keluar. Warnanya sudah kehitaman. BABku juga mencret. 

   Kucoba menenangkan diri sambil minum air hangat. Tadinya mau kucampur madu entah mengapa aku tidak kuat minum madu seperti biasanya. Kuoleskan minyak kayu putih di perutku. Kuhirup perlahan minyak itu. jika kuteruskan muntahku darah bisa lebih banyak lagi yang keluar, jadi kucoba menahan rasa mual ini. 

   "Sudah cukup untuk hari ini, jangan muntah lagi." Itulah kalimat yang kuucapkan untuk diriku sendiri. 

   Setelah agak tenang, aku mencoba bangun dari tempat tidur mengambil pepaya untuk sarapan pagiku. Kukumpulkan sedikit demi sedikit kekuatan untuk bisa masak nasi lemes dan sayuran. Sambil memasak, sambil makan pepaya. 

   Lama kelamaan sensasi mual itupun sirna, aku kembali beraktifitas normal hingga malam hari meski harus makan tiap 2 jam sekali. Jam 8-10-12-14-16-18-20 . 8 pagi – 8 malam. 

   Itulah cerita pagiku yang berat. Kadang aku ingin bangun dalam keadaan segar bugar, sedikit lebih lama menikmati tidur dan mencoba untuk sedikit malas bangun. Tapi kenyataannya ketika bangun tidur rasa mual yang sangat yang kurasakan dan tak tertahankan lagi untuk muntah. 

   Aku ingin bangun siang, tapi lambungku tidak bisa diajak malas. Aku memang penyuka tidur. Tapi ini buruk untuk kesehatanku. Aku menonton banyak kesaksian di youtube tentang penyembuhan GERD. Aku mencoba berbagai macam cara, mengubah pola makan, mengikuti FC namun selalu gagal. Saat sakit aku hanya rindu almh. Ibuku. Tapi kini aku sudah dewasa, semua harus diatasi sendiri. aku mencoba latihan meditasi yoga kundalini. Minum jus kentang sebelum tidur, dan sebelum makan pagi. Minum lidah buaya. Minum shake herbalife namun ga rutin karena keterbatasan dana. Minum kunyit. Minum air kelapa muda. Semua kucoba. Namun belum ada hasilnya. 

    Ya semua butuh proses aku hanya perlu bersabar dan terus berusaha. Mengenali tubuhku sendiri dan mencari solusi untuk masalahku. Berat badanku kelebihan 5 kg dari ideal. Semua bilang aku segar bugar, namun siapa sangka tiap pagi aku selalu muntah disertai bercak darah. Fisikku normal. Tapi psikisku yang bermasalah sepertinya. Ketakutan yang semu, mengganggu kesehatanku. 

    Sambil menunggu perutku enakan, aku iseng-iseng lihat timeline fb teman-temanku. Mereka sangat aktif dan bisa pergi kemana-mana, makan apa saja, wiskul kesana kemari, berenang bersama keluarga, traveling, benar-benar menikmati hidup mereka. Kapan ya aku bisa seperti itu? aku tak ingin apapun saat ini, aku hanya ingin sembuh dan bisa menikmati semuanya. Ya semuanya… I hope so… someday..

Sesuatu Untuk Ibuku

Moocen Susan | Sabtu, Desember 26, 2015 | 23 Comments so far
    Ibuku adalah wanita tangguh yang sederhana. Semua pekerjaan rumah tangga dilakukannya dengan penuh semangat dan tak kenal lelah. Selain mengurus keluarga, ibu juga bekerja membuka usaha warung klontong kecil-kecilan. 
  
Saat usiaku baru setahun, warung ibuku ditabrak truk hingga roboh. Maklum waktu itu belum ada trotoar seperti sekarang. Tapi ibu tidak patah semangat, kebetulan ibuku hoby memasak. Masakannya sangat enak. Meski waktu itu ibu belum punya kompor gas, semua pekerjaan memasak dilakukan dengan menggunakan kayu bakar. Betapa repotnya memasak dengan kayu bakar itu, asap dan bau sangitnya kadang mengenai pakaian. Mata pedih dan berkeringat selama memasak. Namun ibu tetap melakukannya dengan senang hati. 

  Uang ganti rugi karena warung ditabrak itu digunakan ibu untuk membuka warung nasi pecel. Ibu bangun pada pukul 03.00 dini hari dibantu bapak, memasak untuk jualan nasi pecel. Sedangkan aku dan adiku masih tidur nyenyak. Ada rasa bersalah kalau ingat masa itu karena aku tidak ikut bangun membantu ibu, tapi ibuku memang melarangku untuk membantunya memasak. Katanya malah ngrusuhi. Jadi paling-paling aku cuma disuruh metik sayuran, iris cabe dan kupas setampah bawang. 

   Dagangan ibu laris banget karena masakannya enak dan ibuku ramah pada pembeli. Setiap malam ibu mengumpulkan uang hasil jualannya dan selalu ke bank setiap hari untuk setor tabungan. Sedikit demi sedikit ketika tabungannya terkumpul, ibu bisa renovasi warung dan membeli TV serta sepeda untukku. 

    Disaat ibu sedang senang-senangnya menikmati hasil usahanya, penyakit kanker telinga membuatnya terkapar selama setahun. Awalnya ibu kehilangan salah satu pendengaran di telinga kanan dan kepalanya sering pusing. Penyebabnya dari infeksi karena ibu sering membersihkan telinga setiap habis mandi dan mungkin terlalu dalam membersihkannya. 

   Ibuku yang dulu gemuk dan sehat, kini terbaring lemah tak berdaya mengeluh sakit kepala setiap malam, daun telinganya hilang dimakan sel kanker, lukanya berbau dan bernanah sehingga perban harus sering diganti. Tubuhnya tinggal kulit pembungkus tulang. Setiap akan berangkat sekolah aku memandikan ibuku dan mengganti perbannya. Ketika aku pulang sekolah aku menemani ibu dan menyanyikan lagu-lagu pujian untuk menenangkan ibu. Namun ibuku terus menangis dan memegangi kepalanya yang pusing dan sakit seperti dipalu rasanya. 

   Suatu ketika ibu memintaku untuk memasak sayur untuknya. Seumur-umur aku belum bisa memasak. Tapi kali ini ibu menyuruhku memasak. Meski dalam keadaan sakit ibu masih ingat betul bumbu-bumbu apa saja untuk memasak. Aku mencatat daftar belanjaan untuk membuat masakan ibu. Ibu juga mengajariku secara lisan cara memasak sayur yang dimintanya. 

    Awalnya aku tak yakin. Namun demi ibuku aku tetap berusaha memberi yang terbaik. Aku nekat memasak sayur untuk ibuku. Tanpa bumbu penyedap rasa, tanpa garam dan tanpa gula. Hambar sekali rasanya. Aku saja ga doyan makan masakanku itu, tapi ibu memanggilku, menanyaiku apakah masakanku sudah matang? Dengan agak ragu aku memberikan semangkuk sayur yang diminta ibuku. 

     "Apa enak bu?" tanyaku meski kutahu itu ga enak. 
     Tapi ibu menjawab, "enak kok nak, terima kasih ya". 

     Oh, pecah hatiku rasanya mendengar ibu berkata begitu. Itu adalah masakan pertama dan terakhirku untuk ibu. Kini ibuku telah tiada, keinginanku untuk membahagiakan ibu mungkin hanya sebatas semangkuk sayur buatanku. Tapi aku sangat bersyukur sudah diberi kesempatan meski hanya hal sederhana. 




Postingan ini diikutsertakan dalam 
Special New Year Gift for Mom
Blogger's Competition bersama Moxy
Jumlah :500 kata