Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • JUAL SUPERGREENFOOD

TIPS YANG PERLU DIPERHATIKAN UNTUK TRANSAKSI KPR

Moocen Susan | Selasa, Desember 28, 2021 | 2 Comments so far

Berikut ini, aku mau berbagi tips yang perlu Anda perhatikan kalau akan mengajukan KPR :


  1.  Tempat tinggal dan tempat kerja jelas dan dapat disurvey kelayakannya oleh bank
  2. Status menikah atau belum akan mempengaruhi penghasilan dan pertimbangan oleh pihak bank
  3. Pekerjaan tetap minimal 2 tahun
  4. Penghasilan tetap sekitar 3x angsuran pinjaman (bisa dilakukan join income suami-istri)
  5. Bebas dari BI checking/ pinjaman atau tagihan kartu kredit yang macet
  6. Umur konsumen menentukan lama waktu pinjaman (maksimum umur 55 tahun atau ada surat keterangan pensiun kerja)
  7. Tabungan yang mengendap di rekening konsumen minimal sebesar angsuran tiap bulan.
Read More

Perjuangan Kami di Detik-detik Sebelum Tanda Tangan AJB

Moocen Susan | Kamis, Desember 23, 2021 | 1 Comment so far

Kami bersyukur kepada Tuhan Yesus karena sudah menunjukkan kepada kami pembeli rumah kami yang serius. Nah kali ini aku mau cerita bagaimana perjuangan kami di detik-detik sebelum penandatanganan Akta Jual Beli ke Notaris.

Setelah kami deal harga, pembeli rumah kami ini yang mencari sendiri notarisnya dan itu sangat meringankan kami. Pihak penjual hanya membayar Pajak Penjual dan yang lain ditanggung oleh pembeli.

Masalah muncul ketika kami sadar kalau SPPT PBB taun ini belum kami terima. Padahal kalau mau jual beli rumah itu harus menyertakan SPPT PBB asli dan bukti pelunasannya.

Suamiku saat beli rumah tersebut secara KPR, hanya diberi fotokopi SPPT PBB taun 2020 yang sudah dilegalisir oleh notarisnya. Tapi yang taun 2021 kemana ya? 

Sedangkan suamiku belum pernah menempati rumah tersebut sejak dibeli. Ga tau cari dimana, mungkin harus cari pak RT nya. Waktu kami sangat mepet. 

Akhirnya Selasa, 21 Desember 2021 malam itu juga setelah pulang kerja, aku dan suamiku capcus meluncur ke lokasi rumah yang kami jual  dan mencari pak RT dari sumber info yang tertera di copy SPPT PBB tahun lalu. 

Sampai di lokasi, suamiku tanya padaku. "ni kita mau kemana ya? belok kanan apa kiri?"

Aku bilang, "udah coba belok kanan dulu nanti cari tulisan RT di rumah-rumah atau tanya tetangga."

Aku dan suamiku tengok kanan kiri naik motor malam-malam. Rumah banyak yang tutupan. Sampai kami berhenti di sebuah rumah yang ada tulisan RTnya.

"Nah ini dia, eh betul ini rumah pak RT." Aku senang dan masuk ke dalam rumah itu.

Pak RT menyambut baik kedatangan kami. Dan ketika kami sampaikan maksud kedatangan kami yang sedang mencari SPPT PBB, ternyata pak RT tidak membawanya karena beliau baru menjadi RT sebulan ini. Sedangkan RT lama sudah meninggal. Wuss, mateng aku.  

Lalu, pak RT memanggil bu RT dan menanyakan apa sudah dibagi SPPT PBB tahun ini? Dan menurut bu RT sudah dibagi dan yang membagi adalah anak almarhum pak RT lama. 

Kami mulai mencari rumah anak pak RT lama yang kebetulan ada di dekat situ. Tapi ternyata orangnya pergi, aduh... cobaan apa lagi ini? Aku jadi harap-harap cemas. 

Tiba-tiba salah seorang tetangga datang menghampiri kami dan menanyai kami. Lalu dia memanggil cucu pak RT yang lagi nonton TV tapi cucunya ga tahu menahu soal SPPT. Hingga akhirnya pamannya datang dan mempersilakan kami masuk. 

Lalu beliau mencarikan SPPT yang belum dibagi. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa tumpukan SPPT. Dan puji Tuhan, akhirnya SPPT PBB suamiku ketemu, tepat di urutan teratas tumpukan itu. 

Kami lega banget, satu tugas selesai. Tapi belum berhenti sampai disitu, masih ada tugas lain yang harus dikerjakan yaitu surat perpanjangan pernyataan kelurahan kalau nama di sertifikat tanah suamiku berbeda 1 huruf dengan nama di E-KTP.

Sedangkan waktu kami hanya tinggal besok pagi, jam 9 kita sudah harus ketemuan lagi dengan pembeli dan melakukan penandatanganan AJB di notaris.

Tuhan maha mengatur segala sesuatunya. Pagi itu kira kira jam 7, tiba-tiba pembeli bilang kalau nama di sertifikat beda 1 huruf dengan nama di ektp dan kami harus segera mengurusnya. Kebetulan juga, notarisnya pada jam 9 ada acara jadi diundur jam 12. "Wah kita masih punya waktu ni ko," sahutku pada suami.

Benar saja, jam 8 pagi setelah makan, kami pergi ke kelurahan. Tapi untuk dapat surat dari kelurahan harus ada pengantar RT domisili dan tandatangan RW juga. Sedangkan pak Lurah sedang tidak di tempat tapi nanti jam 10 baru kembali ke kantor karena ada acara. Aduh, pusing kokoku. pak RT dihubungi ternyata lagi ga dirumah, sedangkan waktu terus berjalan. 

Tapi puji Tuhan, pak RT pun pulang kerumahnya jam 9 pagi. Langsung bikin surat pengantar dan setelah itu ke pak RW. ternyata pak RW juga sedang bekerja jauh dari rumah. Tambah cemas lagi. Untung istrinya mau menelponkan dan pak RW ternyata mau menyempatkan waktu pulang ke rumah sebentar untuk stempel dan tanda tangan.

Jam menunjukkan pukul 9.45. Puji Tuhan surat pengantar dan tanda tangan RT RW sudah di tangan kami. Kami langsung menuju ke kelurahan dan ternyata di kelurahan antri. Aduh ...sabar-sabar... kulihat pak lurah juga belum ada di kantornya. Makin cemas aku, tapi suamiku menenangkanku.

Jam 10 tepat, kami dilayani oleh petugas kelurahan. Beliau langsung membuat surat pernyataan bahwa nama di sertifikat tanah dengan nama di Ektp suamiku adalah orang yang sama.

15 menit kemudian, pak Lurah datang dan akhirnya surat tersebut sudah ditangan kami. Tapi belum selesai. Kami harus ke kecamatan untuk minta tanda tangan pak Camat. jam sudah menunjukkan pukul 10.30 kami pun tiba di kantor kecamatan dan mendapat tanda tangan & stempel pak Camat.

Masalah kecil muncul, kami kebelet ke toilet. Ya sudah mampir sebentar ke SPBU. Setelah itu tiba-tiba perutku krucuk krucuk, biasalah kalau panik jadi mudah lapar. Akhirnya mampir dulu beli roti buat kami berdua.

Aku chat pembeli rumah kami kalau kami agak telat karena baru otw jam 11 siang. Untung saja pembelinya maklum. Akhirnya sampailah kami di rumah yang kami jual dan menunggu pembeli datang. Aku dan suamiku menyempatkan diri ngemil roti dulu sambil menunggu pembeli datang.

Jam 13.30 pembeli datang dan mengajak kami naik mobilnya untuk sama-sama ke notaris.

Jam 14.00 kami sampai di kantor notaris. Tapi notarisnya belum datang. Suamiku dimintai nomer EFIN untuk laporan pajak tapi suamiku lupa nomer EFINnya. Mana hpnya lagi eror pula, ga ada jaringan. Aduh makin deg-degan. Untunglah akhirnya bisa masuk pakai password.

Surat AJB masih diketik oleh staff notaris. Jam menunjukkan pukul 14.20 WIB, sedangkan jam 15.00 kami sudah harus sampai di bank, karena sebentar lagi bank tutup. Kami mulai panik berjamaah.

Berhubung notaris masih belum datang juga akhirnya digantikan oleh asistennya dan akhirnya kami bertiga pun tanda tangan AJB.

Kami naik mobil lagi ke bank. Dan jam menunjukkan pukul 14.55. Kami segera turun dari mobil dan naik ke lantai dua untuk melakukan pemindahbukuan/ transaksinya. Dan tepat jam 15.00 semuanya sudah selesai. Kami pun lega.

Yang mau aku garis bawahi dari kejadian ini, saranku buat kalian baik para petugas admin dukcapil, dimohon ketelitian dalam mengetik nama. dan mungkin karena human eror karena melayani banyak orang, berarti sebagai masyarakat kita juga harus croscek ikut teliti juga apabila kalian setelah mendapat ektp harap dicek lagi. Jika ada kekeliruan segera diperbaiki agar tidak kerepotan sendiri di masa yang akan datang seperti kasus suamiku ini.

Terlepas dari semua liku-liku birokrasi yang kami lalui, kami bersyukur Tuhan turut campur tangan dalam mengatur waktuNYA sehingga urusan jual beli rumah selesai dengan baik.Tuhan tidak pernah terlambat datang menolong kita. PenyertaanNya sempurna

Read More

Cara Mengurus Dobel SPPT PBB Karena Salah Ketik NOP

Moocen Susan | Kamis, Desember 23, 2021 | Be the first to comment!

Apabila Anda mendapat dobel SPPT PBB dengan objek pajak dan alamat yang sama, tapi ada kesalahan di pengetikan NOP, berikut ini cara mengurus pengajuan pembatalan PBB berdasarkan keterangan dari admin online Bapenda Semarang dengan nomor WA 0822-2122-1400 atau telp Hotline Halo Bapenda: 0-800-1616-162 (bebas pulsa)

1. Asli SPPT/SKPD PBB/STPD PBB *yang diajukan untuk dibatalkan

2. Surat kuasa bermeterai dari Wajib Pajak dalam hal dikuasakan.

3. Bukti Pendukung berupa fotokopi:

  • SPPT/SKPD PBB/STPD PBB *yang benar
  • Bukti Lunas PBB tahun-tahun lalu
  • Sertifikat/ Bukti kepemilikan lain
  • IMB/ Keterangan lain
  • KTP Wajib Pajak dan Kartu Keluarga
  • KTP yang diberi kuasa

Kemudian bawa semua berkas tersebut di atas ke Pos Wilayah PBB sesuai kecamatan. Apabila Anda tinggal di daerah Ngaliyan maka datanglah ke Jl. Puspowarno II no.10 Semarang.


Semoga bermanfaat.

Read More

Mujizat Tuhan Saat Jual Beli Rumah

Moocen Susan | Rabu, Desember 22, 2021 | 2 Comments so far

 Sudah hampir 4 tahun lamanya, kami promosi jual rumah namun hasilnya selalu nihil. Sempat dikontrakkan setaun, tapi malah rusak. Akhirnya kami jual. 

Udah posting di berbagai sosial media, ketika ada beberapa orang tertarik dengan iklannya dan survey lokasi, banyak yang kecewa dan hilang entah kemana. Dihubungi via chat hanya diread doank dan itu sungguh bikin hopeless.

Tiap hari Minggu, kami pergi ke rumah itu untuk bersih-bersih rumput, beli cairan pembunuh rumput untuk membunuh rumput di sekeliling rumah kami dan juga rumput tetangga secluster dimana satu cluster ada 8 rumah mangkrak.


Sampai pada suatu titik keputusaan kami, akhirnya yang kuiklankan adalah kondisi real lingkungan yang sepi. Banyak yang komen, "Ih serem, jalannya jelek ya, kok banyak rumputnya? dll. " Tapi aku tetap sabar dan mengiyakan komentar-komentar netizen tsb.

Di sosmed suamiku, aku juga bantu posting iklan. Suatu hari ada seorang ibu yang tertarik dengan rumah kami dan sedikit kepo. Sudah kuberi video real keadaannya namun si ibu ini tetap ingin melihat langsung. Setelah janjian survey, suamiku baru bukain pagar, eh ibu ini bilang, "Sudah cukup disini saja. Saya kayaknya ga berminat, maaf ya." Tapi ya aku syukuri saja, mungkin belum jodohnya.

Jarak rumah yang kami jual cukup jauh dari tempat kami tinggal, jadi kalau nemu yang kayak gini cukup capek juga. Pernah dalam sehari ada 5 orang yang survey dan kelimanya ada yang nawar sadis, jauh di bawah harga. 

Awalnya suamiku keberatan tapi karena kita lagi BU juga, suamiku mengiyakan tapi.. dia malah nurunin harga lagi. Wah kayaknya bukan ini. Ya sudah, iklasin aja mungkin besok ada lagi yang mau nawar lebih tinggi. Eh ada lagi calon pembeli, nawarnya di bawah orang ini. Aku makin putus asa.

Namun, Tuhan ingatkan aku buat bersyukur selalu meski keadaan tidak bisa membuatku bersyukur. Aku selalu memperkatakan hal-hal baik dan memotivasi diri agar jangan putus asa. 

Sampai suatu titik di masa pasrahku, aku berpikir : "Apa mungkin Tuhan pengen aku dan suami tidak boleh jual rumah itu alias dipakai sendiri? Tapi aku kasihan sama suamiku kalau tinggal jauh dari kantornya dan disitu lokasinya memang sepi dengan satu tetangga." Aku bernegosiasi dengan Tuhan dalam doa.

Suamiku bilang sambil bercanda, "Sulit rasanya jual rumah ini. Hampir semua orang yang sudah survey bilang alasannya karena sepi, tanpa tetangga. Mereka takut. Rumah ini hanya bisa terjual kalau ...

Berbagai spekulasi bermunculan di pikiran kami. Hingga suatu saat, aku pun menyerah dan kami sepemikiran, andaikata rumah tsb tidak laku juga, ya sudah kita lakukan plan B yaitu mengusahakannya menjadi ladang penghasilan lainnya.

Namun, baru saja kami berpikir tentang plan B. Tiba-tiba suatu pagi, aku tergerak buat buka HP suamiku. Aku memang posting di fb suamiku tentang iklan jual rumah kami. Aku yang aktif bersosial media jadi kalau aku yang balas chat/ komentar mungkin lebih cepat dibanding suamiku. Mana mesenggernya ga diinstal pula. Jadi harus buka fb di browser. Suamiku memang tidak terlalu suka main sosmed.

Aku baca notif di komentar iklanku. Ada seorang ibu muda yang tertarik dengan rumah kami. Namun karena aku sudah putus asa, aku mulai jelaskan semua kekurangannya dan aku bertanya, "yakin mau? sepi lho mbak ga takut?"

Tapi jawabannya sungguh diluar dugaan, dia tetap tidak keberatan dengan lokasinya yang sepi dan dia minta sharelok. Aku tidak berani berekspektasi terlalu tinggi dulu, aku pun share lokasinya. Dia bilang mau lihat hari Minggu, tapi hari Sabtunya dia sudah berinisiatif untuk survey lokasinya sendiri. Dan ketika dia menghubungiku bahwa sudah lihat lokasinya sendiri aku agak kaget, "Jadi hari Minggu ga jadi lihat dalam rumahnya mbak?"

Dia bilang, "Oh tetep jadi, saya juga pengen lihat dalamnya."

Aku bilang, "Tapi ini juga butuh renov lho mbak."

Apapun kekurangan yang kusampaikan dia tetap tidak keberatan. Hari Minggu dia datang dengan ibu dan kakaknya. Aku pun tak berani berharap lebih, takut kecewa lagi. Dalam doaku aku tetap bersyukur dan berserah serta percaya pada rencana TUHAN.

Setelah pulang dari survey ternyata dia sangat aktif chat kami. Dia mulai menawar harga dan puji Tuhan sampailah kami sepakat pada satu harga yang pasti harganya lebih baik namun kami tetap jual rugi karena berbagai kondisi. Dasarnya kami juga BU untuk beli rumah yang dekat kantor. dan puji Tuhan semua dilancarkan meski ada beberapa kesulitan yang kami hadapi, seperti : ada perbedaan nama antara eKTP dengan nama di sertifikat tanah, SPPT PBB suamiku yang belum dibagi RTnya. Kami urus semua itu dalam waktu 2 hari.

Hari ini, kami ke notaris bersama dan selesai melakukan transaksi jual beli. Puji Tuhan, Tuhan telah melakukan mujizatNya tepat pada waktuNYA. TUHAN menyediakan dana untuk kami bisa beli rumah lagi yang tadinya kami ajukan KPR lagi tapi kini dana untuk melunasi KPR yang 10 tahun itu sudah dibayar lunas oleh TUHAN melalui pembeli rumah kami ini. Jehovah Jireh -



Read More

Diary Cari Rumah Baru & Urus KPR

Moocen Susan | Kamis, Desember 16, 2021 | 10 Comments so far
Setahun yang lalu, saat kami selesai mengurus acara pernikahan. Aku dan suamiku mencari kontrakan dulu. Kami berkeliling kota ini dari ujung ke ujung dan melewati daerah ini. Suamiku bilang pengen tinggal di sini. Tapi aku kurang suka awalnya, hingga kulihat ada perumahan yang aku suka desainnya. Tapi waktu itu unitnya sepertinya sudah habis. Dan kami berkeliling lagi ada sebuah spanduk di sebuah lapangan yang menginformasikan akan dibangun perumahan lagi. Hanya kulihat gambarnya saja dan aku berdoa: "Tuhan aku pengen rumah itu nantinya."

Waktu terus berjalan dan kami malah menemukan kontrakan lain yang lebih dekat dengan kerjaan dan aku tetap bersyukur akan hal itu. Tapi baru sebulan tinggal di kontrakan, suamiku nyeletuk kalo dia pengennya beli rumah secara kpr lagi ga mau kontrak terus.

Aku pun agak sedih karena kontrakan ini sudah hommy banget, tapi aku mencoba berpikir dengan logis. Iya ya daripada kontrak mending uangnya buat cicil rumah. Tapi agak ngeri juga sih kalo kpr takut ga bs cicil. Aku si pengennya cash, nunggu rumah laku dulu tapi.

Bulan desember kami mulai cari-cari info rumah lagi atau tanah dan pengennya dibangun sendiri aja jauh lebih murah karena kebetulan koko iparku arsitek. 

Aku bantu suamiku cari- cari info rumah/tanah dijual. Aku nemu 3 lokasi yang harganya terjangkau. Kami pun meluangkan waktu untuk survey, suamiku sampai rela ijin di waktu makan siang buat survey, demikian juga hari minggu pasti kita kluar buat survey. Maklum kejar tayang soale bulan Januari abis jatuh tempo kontrakan.

Dan suamiku kaget plus kecewa karena ketiga lokasi tanah yang dijual dekat makam semua. Katanya koko, menurut fengshui kurang baik. Akhirnya kami urungkan niat beli tanah. Aku pun tidak menyerah untuk tetap mencari lokasi lain. Hingga aku teringat lokasi yang dulu pernah kudoakan.

Aku iseng cari iklannya dan nemu. Aku pun menghubungi marketingnya dan kami janjian survey tapi suamiku agak ogah-ogahan. Karena harganya mahal menurut dia. Tapi aku tetap bujuk suamiku buat lihat aja dulu. Akhirnya dia mau dan setelah sampai disana surprisenya ada 1 unit yang lagi promo harga. Suamiku agak tertarik dengan 1 kamar harganya segitu. Tapi waktu itu dia ga segera setuju untuk UTJ. Dia bilang masih dipikir-pikir lagi. Aduh gemes gak bun.. tapi ya sudahlah. 

Ketika kami pulang, suamiku bilang setuju kalo harganya segitu. Tapi... tiba-tiba marketing bilang unitnya sudah laku. Yah pupus harapanku untuk beli rumah itu. Unit yang lain harganya lebih mahal dan suamiku ga mau. Apalagi bulan Januari harganya naik lagi. Aduh kesel rasanya, coba kalo tadi langsung UTJ pasti ga diambil orang. Semalaman aku bete, ngomel, dan aku keselll kuadrat. Tapi Tuhan ingatkan aku buat selalu bersyukur.

Keesokan harinya aku mulai cari-cari lagi info rumah dijual di lokasi lain. Dapet, tapi entah kenapa yang diiklankan di fb itu beda dengan realnya. Titik lokasi yang ga tepat, design rumah nyomot desain orang lain, dan benar aja setelah kami datangi ternyata pesan bangun. Dan hasil pesan bangunnya itu ga sama dengan yang di foto.ya karena foto desain orang lain. Setelah aku cek wifi langgananku tidak ada odp di daerah itu.

Aku bilang suamiku. Kalo wifiku cuma masuk di lokasi perumahan yang kusuka kemarin. Pas pulang kerja entah ada angin apa tiba tiba suamiku bilang, ya weslah boleh beli yang disana. Aku antara seneng, ngambek, dan agak takut kalo suamiku berubah pikiran. Aku dah pengen banget dari taun lalu ambil rumah itu. Aku suka rumah baru soale hehe..

Kami sepakat buat aku yang bayar UTJ,DP,asuransi di awal, peningkatan SHGB ke SHM sedangkan dia bertugas cicil sampe lunas.

Tapi meskipun suamiku mampu nyicil aku sebagai istri harus punya cadangan juga. Jadi aku harus extra kerja keras buat cari uang tambahan. Syukur2 kalo rumah kami kejual jadi lebih tenang. Agak horor juga sih kalo gabay di tengah jalan. Mana kemarin di kerjaan suamiku ada phk masal pula. Jadi agak takut. Tapi tetap berusaha dan berdoa.

Okay, ini kucatat diary urus kprnya ya



- 7 desember 2021 aku bayar UTJ ke developer

- 8 desember : Isi formulir permohonan mandiri kpr dan mandiri multiguna

- 9 desember: panggilan buat tanda tangan surat perjanjian kredit

- 10 desember : kami ke CL untuk tanda tangan surat PK.

- 11 desember: aku bikin surat slip gaji dan sk kerja dan minta tanda tangan bosku. Karena kpr suamiku cuma 10 th dan usia dia 45. Jadi butuh join income biar pas cicilane.


-13 desember : bos suamiku ditelp bank untuk verifikasi data

- 14 desember: suamiku dan koko iparku ditelp bank

- 16 desember : pemberitahuan KPR bank ku di acc dengan full plafon, bunga 4.25% tenor 10 tahun. Untuk pelunasan dipercepat bisa kapan saja tapi kena penalty 3%.

- 24 desember : Akad kredit di Bank Mandiri

Setelah sampai di bank kami menuju lantai 2 dan satpam meminta KTP asli, KK asli, npwp asli, buku tabungan, akta nikah asli.

Beberapa waktu kemudian datang pihak developer bersama notaris. Kami menandatangani berkas-berkas dan membayar cash ke notaris. Setelah selesai, pihak bank datang dan kami tanda tangan lagi sebanyak 11 berkas dengan 11 materai.

Udah gitu aja, selanjutnya kami menunggu rumah jadi kira-kira bulan April 2022. 

 



Read More