Laman

  • HOME
  • LOMBA BLOG
  • ARTIKEL
  • TUTORIAL
  • JUAL SUPERGREENFOOD

Bangkitkan Semangat Tertib Berlalulintas

Moocen Susan | Kamis, Maret 06, 2014 | Be the first to comment!
    Maraknya kasus kecelakaan yang terjadi mengajak kita untuk kembali merenungkan apakah kita sudah sadar berlalu-lintas artinya sudahkah kita mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang telah dibuat? Karena pada dasarnya peraturan itu dibuat untuk menciptakan suasana tertib dan aman, bukan untuk dilanggar. Jangan hanya karena dikejar waktu dan ingin cepat sampai ke tujuan sehingga kita mengabaikan rambu-rambu lalu lintas. 

    Hal yang menurut kita sepele dapat mengakibatkan terjadinya musibah kecelakaan yang tidak jarang dapat merenggut korban jiwa maupun korban luka-luka. Sebagai contoh pada saat traffic light berwarna kuning menyala perlambatlah laju kendaraan Anda dan berhentilah saat lampu merah menyala. Saat ini di dekat traffic light sudah dipasang timer yang salah satu fungsinya adalah agar para pengguna jalan raya tahu kapan waktunya bersiap-siap untuk jalan maupun berhenti. Jangan membiasakan kebut-kebutan di jalan raya. Bagi pengendara kendaraan bermotor jangan lupa menggunakan helm dan pengendara kendaraan roda empat gunakanlah sabuk pengaman demi keselamatan Anda. Sedangkan bagi pejalan kaki supaya aman hendaklah berjalan di trotoar dan menyeberang di jalur yang benar (zebracross) dan jembatan penyeberangan yang telah dibuat. 

    Apabila seluruh pengguna jalan raya mau disiplin dan mematuhi semua peraturan lalu lintas yang berlaku maka kecelakaan dapat diminimalisir. Mulai tanamkan kedisiplinan itu dari dalam diri kita masing-masing. Semoga hal ini dapat membangkitkan semangat kita untuk disiplin dan tertib berlalu-lintas.

Rindu Toilet Bersih

Moocen Susan | Kamis, Maret 06, 2014 | Be the first to comment!
    Sepintas judul di atas mirip iklan, ya? Kita semua memang rindu akan kebersihan, salah satunya yaitu kebersihan toilet. Seberapa sering kita mengabaikannya? Setiap kali saya numpang ke toilet umum tak jarang toiletnya mengeluarkan aroma tak sedap. Mengapa itu bisa terjadi? Padahal di sana sudah disediakan air dan ada tertulis “Jika sudah selesai BAK dan BAB harap disiram kembali” , namun masih saja para pemakai jasa toilet umum ini mengabaikan peringatan tersebut. 

    Membudayakan pola disiplin dan hidup bersih di kalangan umum harus dimulai dari pribadi masing-masing. Jika tiap-tiap orang menyadari hal ini tentu kebersihan dan kenyamanan akan tercipta. Masalahnya banyak orang tidak menganggap bahwa menjaga toilet umum adalah kewajiban kita semua tetapi melemparkan tanggung jawab kepada petugas toilet umum tersebut. 

    Kadang ada orang berpikir begini, “Ah, biar saja kan itu tugasnya tukang toilet.” Pemikiran semacam inilah yang menyebabkan orang malas menyiram setelah memakai toilet umum. Saya pribadi membiasakan diri untuk menjaga kebersihan meski itu di tempat umum. Sebelum masuk ke toilet umum perhatikan apakah ada gayung dan air yang tersedia disana atau tidak. Jika tidak ada cari gayung di toilet sebelahnya lagi. Jangan sampai ketika kita sudah masuk ke dalam toilet lalu BAB atau BAK, eh ternyata baknya kosong, kran mati, dan gayungnya di toilet satunya akhirnya nggak bisa cebok dan menyiram toilet. Jangan lupa melepas sandal atau sepatu saat masuk ke toilet agar lantainya tidak kotor apalagi musim hujan, becek, sandal atau sepatu dari luar terkena lumpur pas masuk ke lantai toilet jadi kotor semua lantainya. Setelah itu barulah kita BAB atau BAK. Jika sudah selesai jangan lupa untuk menyiram kembali toilet itu hingga tak ada lagi aroma tak sedap. Biasanya sih 3x siram. Dan jika kita selesai memakai tissue buanglah sampah pada tempatnya. Jangan membuang tissue atau pembalut di dalam toilet. 

    Mari mulai sekarang kita membiasakan diri menjaga kebersihan meski di tempat umum. Anggaplah tempat umum juga milik kita bersama karena kebersihan adalah pangkal kesehatan

Laporan SPT Tahunan Pertamaku

Moocen Susan | Rabu, Maret 05, 2014 | 8 Comments so far
   Udah bulan Maret nih, saatnya laporan SPT tahunan. Berhubung aku baru kali ini punya NPWP jadi agak masih belum paham betul prosedur laporannya. Awalnya punya NPWP karena diajak temen sih pas keluar buku antologi pertamaku 20 Flash Fiction Twist Ending "Rainbow". Yang pengen beli bukunya masih banyak lo stoknya hubungi saya aja ya =-c. (wah malah promosi-kembali ke topic). 

    Nyadar kalau udah dewasa nih aku, karena mulai banyak tanggungjawab. Kalau dulu semua ortu yang bayar sekarang aku yang pontang panting sana sini bayar listrik, bayar PBB, ngurus ini itu huaaahhhaaha all in one. Nah, sehubungan dengan laporan SPT tahunan ke kantor pajak nih sempet bikin pusing aku selama 2 hari. Inilah akibatnya kalau semua dipikir sendiri, malu bertanya sesat di pasar :P… 

    Ini pertama kalinya aku ngurus sendiri. Hari pertama aku datang ke kantor pajak ambil formulir SPT tahunan, sama satpamnya dikasih sebendel formulir isinya ada buku panduannya, ada formulirnya juga berupa formulir rangkap dua nomor 1770, lampiran SPT tahunan PPh, dan Surat Setoran Pajak (SSP). Nah lo bingung ni cara ngisinya gimana, akhirnya aku bawa pulang aja tu buku tak baca di rumah. Dasarnya aku malas baca baru baca selembar aja mata udah pedih banget dan makin ga paham. Pajak mumet juga ya ternyata, karena ga paham baca bukunya aku coba googling diinternet cara ngisi formulir ini. Nemu deh, tapi masih aja ga mudeng. 

    Kalau ga paham ask a friend atau call a friend? Tanya deh sama temenku yang ngerti pajak. Dari dia aku baru tau kalau cara ngisi form SPT tahunan itu dari lampirannya dulu baru ke induknya. (dari belakang ke depan). Karena aku kerja sendiri alias freelance formulir nya nomor 1770 itu untuk SPT tahunan PPh Wajib pajak orang pribadi. (jangan tanya nomor lainnya karena aku ga mudeng :O) 

    Melototin cara ngisinya di internet kepalaku malah nyut-nyutan, aduh gemes banget gimana sih cara ngisinya? Nyerah deh akhirnya keesokan harinya kuputuskan buat balik lagi ke kantor pajak buat tanya langsung ke bagian peneliti SPT. 

    Sampe disana aku diajarin caranya ngisi. Aku ceritakan jenis pekerjaanku dan hasilku selama setahun. Panduan ini buat ingetin aku aja sih biar kagak lupa besok tahun depan kalau ngisi lagi. Kira-kira cara ngisinya seperti ini: 

    Formulir no 1770 kan ada 4 lampiran ya? Mulai dari lampiran terakhir berarti nomor 1770-IV :

  1. Tahun pajak diisi tahun kemarin (2013)
  2. BL / TH : 01-13 s/d 12-13 
  3. Beri tanda silang pada NORMA
  4. Tulis nomor NPWP
  5. Tulis nama lengkap anda (wajib pajak)
  6. Bagian A: harta pada akhir tahun (isi aja harta Anda apa aja)
  7. Bagian B : utang pada akhir tahun (kalau ada diisi)
  8. Bagian C : Daftar Susunan Anggota Keluarga (tulis data keluarga Anda) 
Formulir no. 1770-III :

 Untuk langkah nomor 1-5 sama dengan diatas caranya
  1. Bagian A : Penghasilan yang dikenakan pajak final dan / bersifat final (kalau ada diisi)
  2. Bagian B : Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak (misalnya dapat sumbangan/ kiriman uang dari saudara / hibah/bantuan/ beasiswa dll)
  3. Bagian C: penghasilan istri yang dikenakan pajak secara terpisah (kalau ada) 
Formulir no.1770-II : 

Langkah nomor 1-5 sama dengan diatas
  1. Bagian A : daftar pemotongan/pemungutan PPh oleh pihak lain, PPh yang dibayar/ dipotong di luar negeri dan PPh yang ditanggung pemerintah (kalau ada)  
Formulir no.1770-I :

Langkah nomor 1-5 sama dengan diatas
  1. Bagian B: Penghasilan neto dalam negeri dari usaha dan/pekerjaan bebas (pilih jenis usaha anda dan isi nominalnya kalau saya norma 35% . penghasilan neto= 35% x peredaran usaha)
  2. Bagian C: penghasilan neto dalam negero sehubungan dengan pekerjaan (tdk termasuk penghasilan yang dikenakan PPH bersifat final) 
  3. Bagian D: penghasilan neto dalam negeri lainnya (bunga, royalty, sewa,penghargaan dan hadiah, keuntungan dari penjualan/pengalihan harta, penghasilan lainnya) 
Formulir no. 1770 (induk) :

  1. Tulis tahun pajak, bulan dan tahun  
  2. Silang kotak norma
  3. Jika ada Spt pembetulan diisi pembetulan ke berapa 
  4. Tulis nomor NPWP
  5. Tulis nama lengkap wajib pajak
  6. Tulis jenis usaha/ pekerjaan bebas Anda
  7. Isi KLU (tanya petugasnya kalau belum tahu nomor KLUnya )
  8. Tulis Nomor telepon / fax 
  9. Penghasilan neto diisi di penghasilan neto dalam negeri dari usaha dan atau pekerjaan bebas. Cara isinya ga usah pake rupiah, jadi misal 1.000.000
  10. Penghasilan kena pajak (opsi nomor 10. TK/1 = karena tanggungan saya cuma 1 orang)
  11. Penghasilan kena pajak diisi nominalnya PTKP (26.325.000)
  12. Dibawah sendiri tulis nama dan Nomor NPWP serta tanda tangan Selain itu setiap bulan musti laporan lagi ke kantor pajak dengan menyerahkan Surat Setoran Pajak (SSP) dengan kode akun pajak 411125 dan kode jenis setoran 100 beri tanda silang pada masa pajak sesuai dengan pembayaran untuk masa yang berkenaan dan tahun terutangnya pajak. Besarnya PTKP tanpa tanggungan dengan status tidak kawin adalah 24.300.000 jika ada tanggungan misalnya orangtua tunggal berarti 26.325.000. 
Abis diisi minta stempel sama peneliti SPTnya lalu disetor ke petugas penerima laporannya baru kita dapat tanda terima. Fiuh, akhirnya beres juga urusan laporan pajaknya :D bangga aja jadi WNI yang baik.

Comedy Blog : Kurus tapi PD

Moocen Susan | Minggu, Maret 02, 2014 | 12 Comments so far
    Kebetulan saya suka tayangan stand up comedy yang sering ditayangkan di Metro TV. Hal yang buat saya tertarik lagi backgroundnya yang ada efek-efek neon gitu (mulai lagi nih kalau lihat design-design unik pasti mulai iseng) B-), karena penasaran cara bikinnya akhirnya saya nyoba buat pake photoshop. Sayangnya photoshop versi punyaku kurang lengkap jadi dibuat seadanya dan sebisanya saya saja yang penting keluar efek neonnya >=) 
sorry, image misproduct

    Ok, saya bukan pelawak tapi suka nonton lawak dan ini iseng aja kalau stand up comedy di TV sekarang nyoba bikin comedy nya di blog. Ya, itung-itung buat bacaan saat galau :). 

   Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Tuhan YME. (wedew berasa pidato ya pake kata-kata pembuka). Beberapa waktu yang lalu saya sempat baca status facebook temen yang menginformasikan tentang semacam lomba menulis dengan tema “Kurus” intinya walaupun kita diciptakan sebagai orang kurus namun tetap PD aja lagi. B-) 

    Kurus itu kalau menurutku adalah singkatan dari Ku dan Rus. Ku=kurang, Rus=diurus. Jadi kurus itu artinya kurang diurus makanya kurus :P (kamus aji aji pengawuran) → kurang gizi lah tepatnya kayak saya. 

   Sejak lahir ke dunia ini, saya memang sudah disetting mungil dan kurus. Walaupun saya makan banyak eh bukan banyak bangsa unggas ya, maksudnya banyak makan tapi entah kenapa badan saya ini ga bisa melar. Trus lari kemana tu makanan? Ada tetangga yang tanya ke ibu saya, “Anak ibu cacingan?” 

    "O tentu tidak!" (brasa iklan obat cacing dah kalau gini) 

   ♪♪ Dimana dimana dimana, larinya makanku kemana?♪♪ 

   Yang pasti setiap pagi saya ontime setor karena memenuhi panggilan alam. Ya sudahlah ya, saya tak mau pusing kemana larinya makanan itu yang pasti meski badan saya kurus dan umur saya sudah bukan waktunya masa pertumbuhan lagi saya tetap bersyukur dilahirkan seperti ini. Banyak orang diluar sana kepengin punya badan langsing, ikut program diet macam-macam, dan minum obat diet kadang bisa ada efek sampingnya juga. Jadi saya cukup beruntung dalam hal ini. { benerin kerah baju B-) } 

    Saya sih ga pernah minder punya badan kurus kecil mungil, dan baru nyadar itu pas ada acara gereja dimana ruangan disekitarnya itu kaca semua, pas pada berdiri saya lihat badan saya di cermin whats? Oh no - ternyata saya paling kecil diantara teman-teman saya. “Astaga, aku kecil amat ya?” X_X. 

   Umur saya sudah kepala 3 tapi badan masih kayak anak SD. Sama murid les saya tinggian mereka kali. Pernah ada murid saya yang tanya, “Kak Susan berate berapa?” 

    “35” 

  “Wah kok sama kayak temenku.” 

   #:-s
  
   Ada lagi yang kurang ajar bilang gini, “Kak Susan aku ditanyai temenku yang gendut, kamu les dimana?” 

    “Di kak Susan Bimbel.” 

   “Oh Susan mini itu (n) ?” #Mini mini berasa sepeda aja mini. 

   Walaupun saya kurus dan kecil mungil mini atau apalah itu tapi kalau saya punya temen main bukan yang mini juga. Rata-rata kalau ga gendut ya tinggi . kalau saya jalan sama si gendut bisa bentuk angka 10. Kalau saya jalan sama yang tinggi dikira adiknya. 

   Aku dulu punya teman main. Orangnya tinggi kurus. Tinggiku sepertiga tingginya dia. Kami berdua suka jalan-jalan ke CL (Citraland Mall Semarang) lewat kampung kali. Nah, karena jalan lagi ramai-ramainya pas mau nyebrang, aku paling panik tuh. Dia bilang gini, “Sik san, santai san. Aku belum nikah nih, tar kalau ketabrak gimana?” 

    Waktu itu aku sih cuma bisa ketawa aja, trus ada lagi kekonyolan dia. Pas lagi enak-enaknya jalan, tiba-tiba dia nyeletuk, “San, ada orang ga doyan nasi.” 

    Aku penasaran, “Mana? Mana?” Eh ga taunya ada ambulance lewat, (orang sakit parah makannya bubur menurut dia) oalah nyelelek banget dia tu. Dan ada kejadian waktu kami lagi dalam perjalanan ke CL. Ini mungkin juga karena aku absen ga ke gereja waktu itu, jadi ada ada aja masalah di jalan. Ceritanya waktu kami lagi jalan kaki, eh tiba tiba ada anak cowok seusia SD datang menghampiriku langsung meluk. Wah wah wah kalau ga anak-anak udah kutendang kurang ajar banget. 

   By the way, ga masalah kurus atau gemuk yang penting sehat. Karena sehat itu mahal harganya. Selama kita masih bisa menikmati anugrah kesehatan ini ya rawatlah sebaik-baiknya. Hidup itu harus seimbang biar hidup kita tidak mengambang bisa berkembang dan suara kita tidak sumbang, jadi didatangi banyak kumbang, (wah kok ga nyambung ya) . Ok segitu aja, saya Susan, slamat tinggal. Eh salah. Sampai jumpa. \m/

Bohong Itu Boleh Ga?

Moocen Susan | Sabtu, Maret 01, 2014 | 16 Comments so far
    "Berbohong itu dosa #:-s," kata guru sekolah mingguku dulu. Apapun alasannya bohong tetap bohong. Tidak ada dosa kecil dosa besar, semua dosa sama. Artinya melanggar perintah Tuhan. Ok, saya bukannya mau khotbah disini tapi sekedar mengutarakan sebuah hal tentang bohong. 

    Saya termasuk orang yang terbuka, blak-blakan dan tidak pandai menyembunyikan perasaan. Mungkin kesannya apa adanya dan ceplas ceplos. Suka bilang suka, ga suka bilang ga suka. Karakter saya berbeda 180 derajat dengan bapak saya. Kalau beliau orangnya lebih kalem dan pandai menyembunyikan perasaan. 

    Seringkali ketika kami pergi berdua dan ada orang yang tanya “Ini cucunya ya, mbah?” (aku dikira cucunya bapakku) kemudian bapakku menjawab “Iya.” 

    Aku langsung protes ketika mendengar hal itu, “Lho bapak kok bilang aku cucu, aku ini anakmu pak, bukan cucu. :o” Bapakku langsung menjawab, “Ya sudah biarkan saja, angger di iyoni lak wes (asal di iyakan saja ga papa) biar cepet selesai ngomongnya ga berkepanjangan. 
credit

   Nah, lain waktu ketika kami mau pergi ke puskesmas ada yang tanya, “Mau kemana mbah?” Bapakku jawab, “Ini lho dolan.” (padahal mau ke puskesmas). Hal-hal semacam ini yang bikin aku agak berbeda pendapat dengan bapakku. 

   Suatu hari teman lama bapakku datang kerumah membawa oleh-oleh, bakmi buatannya. Padahal bapakku sudah makan. Ketika menerima serantang bakmi rebus, beliau langsung masuk ke dapur dan meletakkan bakmi itu di mangkuk. Setelah agak lama beliau keluar menemui temannya di ruang tamu. Sedangkan aku masih online di depan komputer. Kudengar perbincangan antara bapakku dan temannya. “Terima kasih ya, bakminya enak.” Kata bapakku. 

    “Oh, sudah kamu habiskan?” 

   “Sudah kok, sekali lagi terima kasih ya.” 

   Beberapa saat kemudian aku hendak ke kamar mandi dan melewati dapur, aku lihat bakminya masih utuh belum dimakan bapakku sesendok pun. “Wah, bapakku bohong lagi nih.” pikirku.

   Setelah tamunya pulang, aku menghampiri bapakku dan bertanya, “Kok bapak bohong sih? Bakminya masih utuh begitu lho kok bilangnya enak dan sudah dihabiskan?” 

   “Ya gapapa lah, menyenangkan orang lain kan besar pahalanya. Terkadang kita perlu berbohong untuk menjaga perasaan orang lain.” 

    Setelah aku pikir-pikir, bener juga ya, kalau misalnya dikasih sesuatu sama orang terus kita ga suka lalu bilang, “Ah nggak usah repot-repot, aku ga doyan.” Hehe.. mungkin itu lebih sadis ya. >=) Jujur sih jujur tapi yang denger bisa mak jleb dengernya. 

    Jadi bohong itu boleh ga? Dosa ga? Whatever.. yang pasti dalam bersosialisasi dengan orang lain kita harus pandai-pandai menempatkan diri. Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Bicara Soal PH

Moocen Susan | Rabu, Februari 26, 2014 | 7 Comments so far
    Nama lain jodoh buatku adalah PH (Pasangan Hidup). Menurutku cari PH itu seperti milih sepatu di pasar Johar Semarang. Banyak banget pilihannya, tampak bagus diluar tapi belum tentu cocok dipakai dan pas buat ukuran kakiku yang terbilang mungil. Mungkin mustinya aku nyari sepatu di tempat jual sepatu anak-anak kali ya? Tapi modelnya ya kayak anak-anak juga.. ga lucu ah..:P. 

    Kok jadi bahas sepatu ya, balik ke topik. Bisa juga diibaratkan gini, cari PH itu kayak mencari jarum di tumpukan jerami plus lampu mati sekalian. Nah lengkap sudah kesulitannya. Beberapa waktu yang lalu aku sempat galau akut soal PH. Saking galaunya sampai sampai aku masuk ke semua biro jodoh online yang ada di facebook. Pernah juga salah masuk biro jodoh, ditendang deh aku akhirnya karena ga termasuk kategori (ga perlu aku sebutin nama bironya yang pasti ada unsur SARAnya gitu :( ) Tapi tetep aja usahaku itu sia-sia. 

    Terus aku inget sama kisah Hana di Alkitab. Hana sih bukan minta PH, tapi minta anak. Dia punya suami yang sayang padanya tapi Hana masih sedih aja karena belum punya anak. Karena dia ga punya anak tak henti-hentinya si Penina (istri muda suaminya) menyakiti hati Hana. Lalu Hana berdoa dan menangis di hadapan Tuhan. Waktu suaminya tahu hal itu, dia berkata: “Apakah aku tidak lebih berharga daripada 10 anak laki-laki bagimu?” 

   Andaikan Tuhan yang ngomong ke aku ibaratnya bilang gini, “Apakah kasihKU kurang cukup bagimu?” #wah nangis aku kalau jawaban Tuhan kayak gitu. 

   Membaca kisah Hana ini, aku jadi inget bukankah kasih Tuhan cukup bagiku. Terus kenapa aku pakai kekuatanku sendiri cari PH? Segitu pentingkah PH daripada Tuhan? Ga cuma itu aja, beberapa waktu yang lalu ada seorang teman gereja yang bilang gini sama aku: "Wes lah, kamu sekarang yang penting pasrah aja sama Tuhan karena IA tahu yang terbaik buat kamu. Ga nikah itu gapapa daripada nanti kamu stress sendiri. Dikasih ya syukur ga dikasih ya sudah to. Tuhan kan tahu yang terbaik buat kamu."

    Ada juga yang bilang, kamu tu kuper. Jalan-jalan gitu lho jangan dirumah aja. Gimana mau dapat PH kalau ga usaha? Trus aku mikir, emang di jalan bisa nemu ya? Aku jalan-jalan juga kagak ada yang nyangkut. Ada juga yang bilang, kamu mungkin terlalu kurus, kamu pilih-pilih, kamu ini itu bla bla bla...btw, temanku ada lho yang kuper dirumah mulu tapi dapat PH. Bukan dijodohin tapi orangnya dating sendiri ke rumahnya. So, cuma Tuhan yang tahu dan bisa berikan anugrahnya buat kita. 

   Aku sadar selama ini aku pake kekuatanku sendiri, dan lupa mengandalkan Tuhan. Tuhan berulangkali udah buat mujizat buat aku, tapi begitu nemu masalah baru aku lupa lagi kalau Tuhan itu berkuasa dan sanggup melakukan mujizat. Apa yang tak pernah dilihat mata, ga pernah didengar telinga, ga pernah timbul di dalam hati. Semua itu disediakan bagi orang-orang yang mengasihiNya. #Firman Tuhan e sampe nglothok apal semua. Tapi kembali lagi nunggu kalau Tuhan punya mau

   Kalau dulu aku galau, sekarang dibalik. Aku ga mau galau. Meskipun adik kelasku yang 10 tahun dibawahku pada giliran tunangan dan married. Nonton TV orang punya kekurangan fisik aja juga bisa nikah, temenku yang sudah putus asa sama dirinya aja mau jadi biksuni ternyata ga jadi, malah sekarang anaknya nambah lagi. Mantan bosku yang sudah berumur juga akhirnya bisa nikah. Tak ada yang tahu kecuali Tuhan. Ya mungkin mereka sudah siap semuanya. Belajar bersyukur aja. Oh, Tuhan baik sekali, masih kasih saya waktu buat bebas. Single itu Kriuk kata temen aku. :D saking enaknya sampe kriuk kriuk kayak krupuk. 

   Sekarang sih lebih enjoy. Hidupku penuh kesibukan, entah berapa malam minggu yang terlewatkan begitu saja, hari Valentine, malam Natal, malam Tahun baru, ku tetap sendiri. Mungkin belum waktunya. Akhirnya aku keluar dari semua biro jodoh yang pernah aku masuki. Aku belajar bergantung dan berserah, berharap pada Tuhan. Buat apa dapat jodoh cepet-cepet kalau saya ga siap? Jika ia yang kucintai demikian tdak bisa diandalkan dan diharapkan bagaimana ia mau bertanggungjawab atas masa depanku? Jika ia yang kucinta tidak mencintaiku bagaimana dia mau mencintai anak kami nantinya? Semua itu jadi bahan pertimbanganku dalam memilih PH. Dan tak lupa motivatorku pak Mario Teguh sungguh sangat menguatkan setiap malam minggu. 

   So, sekarang saya tidak terlalu stress dan galau lagi seperti dulu. Satu pintaku, jagai kesehatanku dan bapakku ya Tuhan. Soal PH kuanggap bonus saja.